Jibril Al Amin As di Ghadir Khum :

" Rasul (umat) ini telah mengikat perjanjian abadi setiap Mukmin yang tiada yang akan berpaling kecuali tidak Percaya Tuhan "


September 17, 2010

Inilah Sebab Sayyidah Fatimah Zahro AS bergelar al-Muhadatsah

oleh : Ja'far Subhani

Bagaimana penjelasan ihwal Sayyidah Fathimah as, putri Nabi saw, berbicara dengan malaikat?

Tidak bisa diragukan bahwa malaikat pembawa wahyu Ilahi dan malaikat-malaikat lain berbicara dan berdialog dengan para nabi dan wali-wali Allah swt untuk menyampaikan wahyu kepada mereka, namun dialog seperti ini tidak hanya terjadi pada diri para nabi , melainkan juga terjadi pada para manusia-manusia langitan (selain nabi). Ada sekelompok orang, yang mana para malaikat menampakkan diri dengan menyerupai seorang manusia ketika berhadapan dan berdialog dengan orang-orang itu, yang dijuluki sebagai muhaddats (orang yang ditemani bicara).

Di beberapa hadits fariqain (Syi’ah dan Ahlusunnah) terdapat kelompok yang dikenal sebagai muhaddats dan mereka itu adalah orang-orang yang pernah berdialog dan berbincang-bincang dengan malaikat. Seseorang yang disebut muhaddats tentunya, dari segi kesempurnaan, telah mencapai tingkat dimana dia dengan telinga biasa ini bisa mendengar suara-suara barzakhi (gaib). Alam ini, penuh dengan suara-suara dan bentuk-bentuk barzakhi , dimana mayoritas manusia tidak bisa mendengar dan menyaksikannya dikarnakan tidak punya kemampuan. Akan tetapi, ada sekelompok manusia, yang mana telah melewati tingkatan-tingkatan kesempurnaan dan keutamaan, mampu dan bisa menangkap, mendengar dan menyaksikan bentuk-bentuk serta suara-suara barzakhi tersebut, seperti Malaikat Jibril, sang ruhul qudus, berdialog dengan mereka dan mereka mendengar suara sang Malaikat mulia ini.

Dari sini, ada banyak riwayat yang memperkenalkan dan menyebut putri Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah as, sebagai muhaddatsah [1], dimana hal ini menghikayatkan akan kemuliaan dan kesempurnaan dirinya.

Orang-orang yang berpandangan picik dan sempit menganggap bahwa perbincangan malaikat yang terjadi pada selain para nabi adalah sesuatu yang tidak benar dan bahkan jauh dari kebenaran, padahal Alquran dengan sendirinya menjelaskan bagaimana dialog malaikat dengan ibu Nabi Isa as, Maryam.

Qs. Ali 'Imran ayat 42:

"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika malaikat berkata: "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, dan mensucikanmu, dan telah memilihmu (beroleh kemuliaan) melebihi perempuan-perempuan seluruh alam (yang sezaman denganmu)".

Malaikat berbicara dengan seseorang bukanlah alamat dan tanda bahwa orang tersebut adalah nabi, akan tetapi merupakan alamat dan ciri akan terangkatnya maqam sang mukhaathab (audiens) ke puncak kesempurnaan, yang mana puncak kesempurnaan itulah yang menganugerahinya kemampuan untuk mendengar pembicaraan para malaikat. Selain ini, Alquran juga menyebutkan ihwal pembicaraan antara para malaikat dengan istri Nabi Ibrahim as.

Qs. Huud ayat 73:

"Malaikat-malaikat itu berkata: "Patutkah Engkau merasa heran tentang perkara Yang telah ditetapkan oleh Allah? memanglah rahmat Allah dan berkatnya melimpah-limpah kepada kamu, Wahai ahli Rumah ini. Sesungguhnya Allah Maha terpuji, lagi Maha melimpah kebaikan dan kemurahanNya".

Persoalan ilham dan pintu-pintu kegaiban yang terjadi pada diri para wali Allah swt merupakan suatu permasalahan yang masyhur dalam teologi dan filsafat, dimana kita tidak ada ruang untuk menjelaskannya di dalam tulisan singkat ini, namun secara singkat dapat dikatakan bahwa periode kenabian, dalam artian kepemimpinan umat manusia dengan jalan wahyu tasyri' i, telah berlalu dan setelah Rasulullah saw, tidak akan ada lagi nabi dan rasul. Akan tetapi, pintu-pintu kegaiban dan makrifat manusia tidak akan pernah tertutup. Betapa banyak manusia yang mendengar dan melihat sesuatu, yang mana manusia lain tidak bisa mendengar dan melihatnya, dengan mata barzakhinya.

Qs. Al Anfaal ayat 29:

Hai orang-orang yang beriman, kalau engkau bertaqwa (menjauhi perbuatan dosa) kepada Allah swt, maka Allah swt akan menganugerahi kekuatan cahaya, yang mana dengannya engkau akan mampu memisahkan dari dalam antara hak dan batil.

Imam Ali as, ihwal manusia-manusia langit, yang mana senantiasa mencari kesempurnaan dengan jalan taqwa, berkata:

Dia telah menghidupkan akalnya dan membunuh syahwatnya sehingga badannya pun menjadi kurus. Badannya yang bagus itu berubah menjadi lembut. Kilatan penuh cahaya memancar dari dirinya sehingga jalan hidayah menjadi terang baginya dan membimbingnya menapaki jalan menuju Tuhan, meneruskan langkah dari satu pintu ke pintu berikutnya untuk mencapai kesempurnaan dan dia mencapai serta menempati maqam yang sangat menyenangkan lagi aman" [2]

[1] Bihaarul Anwar 43/79 hadis 66 dan 67.

[2] Nahjul Balaghah / Khutbah ke 22.

Disadur dari Judul Asli "Ihwal Dialog Fathimah as dengan Malaikat"


Read more...

September 4, 2010

Muslim yang Menggelisahkan

Oleh Said Aqiel Siradj

BEGITU menggelisahkan saya bahwa saat ini masih saja muncul di kalangan kelompok muslim yang mengungkit-ungkit soal perbedaan ibadah (furu'iyah). Saya pernah ditantang berdebat oleh kelompok semacam itu menyangkut hukum seperti tahlilan, istighotsah, doa untuk si mayat, dan lainnya. Mereka menuding praktik-praktik ibadah tersebut sebagai bid'ah.

Mereka gerah dengan mentradisinya tahlil secara kolosal di negeri kita. Setiap ada pejabat yang meninggal, selalu saja ada tahlilan. Misalnya, saat wafatnya Ibu Ainun Habibie yang juga diadakan tahlilan.

Itu sungguh perdebatan klasik. Dalam kitab-kitab kuning, sudah sekian lama dalam bahasan fikih terhampar perdebatan tersebut. Contohnya, soal doa untuk si mayat, apakah sampai atau tidak. Ibnu Taymiyah, misalnya, membolehkannya. Sementara itu, mazhab Syafi'i tidak membolehkan.

Soal salat Tarawih pun sudah lama nian menimbulkan perbedaan dari segi jumlah rakaat hingga masalah dalil otoritatifnya. Bagi Syiah, salat Tarawih bahkan dipandang tidak memiliki dasar yang sahih. Sebab, Tarawih dipandang Syiah sebagai hasil kreasi Umar bin Khatthab, sedangkan mereka hanya mau mengambil dalil dari Ali. Semua itu disikapi para ulama sekarang (khalaf), termasuk NU, sebagai perbedaan pendapat yang wajar-wajar saja.

Tapi, tidak demikian buat kalangan muslim puritan/Salafi yang kini tengah menebar pahamnya di negeri kita. Tampaknya, negeri kita sedang ''panen'' kelompok puritan yang hobi berdebat hingga masuk ke desa-desa. Dalam setiap pengajiannya, mereka meneriakkan sesatnya ibadah oleh banyak umat Islam. Tak jarang, mereka langsung menelunjukkan jarinya pada tradisi ibadah warga NU. Di beberapa daerah, itu telah melahirkan konflik.

Fenomena tersebut, tampaknya, berseturut dengan bangkitnya keinginan sekelompok umat Islam untuk mewujudkan pemurnian serta penegakan syariat. Memang, tidak semua memahami ''syariat'' sebagai semata keharusan berdirinya negara Islam. Ada pula pemahaman yang mengarah pada puritanisme, khususnya dalam soal ibadah.

Arus reformasi dan demokratisasi saat ini telah mengilhami kebebasan untuk mendiskusikan wacana keagamaan yang selama ini terkungkung. Hal itu tidak hanya terjadi dalam hal penerapan yang bersifat teknis, tapi juga dalam mengungkap dimensi yang hilang dalam wacana syariat Islam. Di sini pula, terdapat ruang yang lebar untuk memahami kembali syariat Islam yang selama ini hanya identik dengan istilah ''penerapan dan formalisasi'' (tathbiq).

Masyarakat Tamaddun

Dari perspektif akidah, Islam memperkenalkan konsep keesaan Tuhan. Hal itu dimulai dari keberadaan Nabi Muhammad di Makkah, di tengah masyarakat yang menganut paganisme. Selama 13 tahun, Nabi Muhammad bersosialisasi di Makkah dengan menawarkan prinsip teologi la ilaha illa Allah.

Di samping secara teologis, bermakna penegasan tidak ada Tuhan yang absolut kecuali Allah, pernyataan keimanan itu juga berdampak sosial politik. Yaitu, manusia dibangun atas dasar kebersamaan, kebebasan, dan persamaan derajat (al-musawah bain al-nas).

Nabi Muhammad lalu hijrah ke Yatsrib. Ia dinamakan Yastrib karena yang pertama datang dan membangun kota tersebut adalah seseorang yang bernama Yastrib ibn Laudz ibn Sam ibn Nuh. Masyarakat Kota Yatsrib cukup beragam. Ada sejumlah suku dominan yang mendiami kota itu, yaitu Suku Aus, Khazraj, Qainuqa', Quraidlah, dan Bani Nadhir.

Penduduknya pun menganut beragam agama, yaitu Islam, Yahudi, dan sebagian kecil Kristen Najran. Dalam masyarakat Islam, terdapat dua kelompok, yaitu kaum imigran (Muhajirin) dan warga asli (Anshar).

Pola interaksi yang dibangun Islam sejak awal mengedepankan pola ''uswah hasanah''. Yakni, berlambar moralitas dan contoh teladan yang baik. Pendekatan moralitas itu menuntut umat Islam untuk selalu menjadi ''uswah'' atau teladan yang baik bagi lingkungan sekitarnya.

Tak heran, sejak awal eksistensinya di Makkah, umat Islam sudah akomodatif dan kreatif. Metode itu bersifat ''soft power'' yang menjunjung tinggi keteladanan, akhlak, pembelaan terhadap kaum duafa, serta penegakan HAM. Praksis dakwah Islam tersebut merupakan bagian dari proses pembangunan akhlak (itmam al-khuluq).

Pada masa Nabi Muhammad, syariat menampilkan dua aspek dalam dirinya, yaitu aspek eksoteris dan esoteris. Sisi eksoteris syariat Islam, seperti kewajiban puasa, zakat, atau haji, baru sempurna ketika kondisi sosial politik serta ekonomi masyarakat Madinah sudah sampai ke situasi stabil.

Dari kondisi plural itu, lahirlah ''Negara Madinah''. Konsep Negara Madinah tertuang dalam al-Shahifah (Piagam Madinah) yang mengandung nilai universalitas. Yakni, keadilan, kebebasan, persamaan hak dan kewajiban, serta perlakuan yang sama di mata hukum.

Di sini, tidak ditemukan teks-teks yang menunjukkan superioritas simbol-simbol Islam seperti kata ''Islam'', ''ayat Alquran'', atau ''syariat Islam''. Kota Yatsrib pun berganti nama menjadi Madinah yang berasal dari kata ''tamaddun'' yang berarti ''peradaban''. Maksudnya, kota atau negara yang mencita-citakan tatanan masyarakat berperadaban.

Untuk mewujudkan, Nabi Muhammad mengembangkan konsep ukhuwah madaniyah. Yakni, komitmen bersama untuk hidup dalam sebuah negeri yang berperadaban.

Melalui pengalaman Nabi Muhammad di Madinah itu, syariat Islam lebih bermakna sebagai upaya untuk saling menghormati dan menghargai, tolong-menolong, cinta tanah air, serta mewujudkan keadilan dan kemakmuran. Dalam Alquran, tidak kita jumpai kata-kata ''umat Islam''. Apalagi kata-kata ''negara Islam''. Al Quran memerintahkan untuk membangun ''ummatan wasathan'' dan ''khoiru ummah''.

Ada lagi aspek hadlarah (kebudayaan) dan tsaqafah (peradaban) yang mengarusutamakan aspek ilmu pengetahuan dan peradaban. Maka, di sini berlaku Islam sebagai ''din al-'ilm wa al-tsaqafah''. Islam tidak hanya berputar-putar pada persoalan akidah dan syariah yang selama ini sering diperdebatkan dan bahkan menghasilkan tindakan puritanisme, radikalisme agama, serta terorisme.

Dalam aspek ini, Islam mengajari kita bagaimana memberikan pencerahan kepada masyarakat agar kreatif dan produktif. Ketika Islam membangun peradaban di wilayah yang dulu dikenal dengan Andalusia (Spanyol), sejarah menorehkan tinta emas tentang pencapaian-pencapaian yang diraih para ulama dan cendekiawan dari berbagai kalangan penganut agama.

Jelaslah, tsaqafah dan hadlarah akan terbangun dari manusia-manusia yang aktif dan produktif. Di situlah hikmah manusia diciptakan. Dia akan belajar, mencari, dan memetik pelajaran serta kebenaran dari mana pun asalnya. Dua aspek itu kerap dilupakan sehingga membuat umat Islam tertinggal dalam kompetisi membangun peradaban dewasa ini. Umat Islam masih lebih senang berkelahi dalam urusan perbedaan ibadah.

Kini saatnya membangun masyarakat tamaddun. Yaitu, masyarakat yang berperadaban tinggi dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Keadilan sosial-lah yang harus menjadi jihad umat Islam. Adanya kegeraman kelompok muslim puritan terhadap tradisi ibadah sebagian muslim lainnya, sehingga kemudian mereka mengampanyekan pahamnya secara militan, bukankah justru akan menimbulkan konflik sesama muslim?

Sejatinya, syariat akan membentangkan transformasi sosial bagi penggiatan terhadap perwujudan keadilan dan kesejahteraan sosial yang berarti membangun masyarakat tamaddun. (*)

Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PB NU

Sumber :
Jawa Pos




Read more...

September 2, 2010

Lailatul Qadar Dalam Pandangan Allamah Thabathaba’i (2)

Peristiwa-Peristiwa Malam Qadar:

Oleh Husain Mullanuri

1.    Turunnya Al-Qur’an

Secara lahir ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” menkonfirmasikan turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan  pada malam Lailatul Qadar. Sebab kata inzâl yang digunakan dalam ayat ini menunjukkan akan makna sekaligus, lain halnya dengan kata tanzîl dimana ia menunjukkan akan makna secara perlahan dan bertahap.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua bentuk penurunan. Pertama, penurunan secara sekali dan sekaligus pada malam tertentu. Dan yang kedua, penurunan secara perlahan dan berangsur-angsur selama 23 tahun masa kenabian Rasulullah Saw

Ayat-ayat seperti ayat yang berbunyi, “Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian” (QS. Al-Isra’: 106), menjelaskan bentuk penurunan Al-Qur’an yang secara berangsur-angsur.

Dalam bentuk penurunan sekaligus, bukan berarti Al-Qur’an yang banyak mengandung surah dan ayat itu, diturunkan dalam satu waktu secara sekaligus, akan tetapi maksudnya ialah ia diturunkan secara global. Sebab ayat-ayat yang diturunkan tentang berbagai peristiwa pribadi dan kejadian secara rinci berhubungan erat dengan waktu, tempat, pribadi dan kondisi tertentu yang menjadi Asbab Nuzul ayat-ayat tersebut. Sehingga seandainya Asbab Nuzul dari ayat-ayat yang ada dinafikan dan dikatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus, maka akan banyak permasalahan-permasalahan dalam Al-Qur’an yang akan terhapus dan tidak dapat diaplikasikan dengan ayat-ayat yang ada.

Dengan dimikian, Al-Qur’an bukanlah diturunkan dua kali dengan bentuk yang ada sekarang ini, akan tetapi dua bentuk penurunan ini satu dengan lainnya salng berbeda, dan berbedaan tesebut terletak pada Ijmâl (global) dan Tafshîl (terperinci) kadungan Al-Qur’an yang diturunkan, Ijmâl dan Tafshîl yang disebutkan dalam ayat, “Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (QS. Hud: 1). Pada Malam Qadar, Al-Qur’an turun secara global dan sekaligus pada hati suci Rasulullah Saw dan selama 23 tahun turun secara perlahan dan terperinci ayat demi ayat.

2.    Penentuan Berbagai Urusan

  Pada malam Lailatul Qadar, Allah swt menentukan peristiwa-peristiwa satu tahun ke depan, peristiwa-peristiwa seperti kelahiran dan kematian, kemiskinan dan kekayaan, keselamatan dan kesesatan, kebaikan dan kejelakan, ketaatan dan kemaksiatan dan lain sebagainya.

Kata قدر dalam ayat yang berbunyi, انا انزلناه فى ليلة القدر menunjukkan arti pengkadaran (takdir) dan pengukuran. Demikian pula ayat yang berbunyi فيها يفرق كل امر حكيم yang diturunkan guna mensiafati malam Lailatul Qadar, juga menunjukkan akan arti pengkadaran. Sebab kata فرق berarti memisahkan dan memilah dua hal satu dengan yang  lainnya. Pemisahan antara dua perkara yang penuh hikmat maksudnya ialah, bahwa dua perkara dan peristiwa ini akan terjadi ini  dengan pengkadaran dan ukuran tertentu satu dengan yang lainnya akan terrpilah dan terpisahkan. Perkara-perkara yang hendak terjadi ini dipandang dari ketentuan (Qadha’) Ilahi memiliki dua tahap, yang pertama ialah keglobalan (Ijmâl) dan kesamarannya, dan yang kedua ialah keterperinciannya (Tafshîl). Malam Lailatul Qadar  sebagaimana yang disinyalir dalam ayat  فيها يفرق كل امر حكيم adalah malam dimana peristiwa-peristiwa yang akan terjadi akan berpindah dari tahap yang masih global dan samar menjadi diketahui dan terinci.

3.    Turunnya Malaikat dan Ruh

Ayat yang mengatakan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”, menunjukan akan turunnya Malaikat dan Ruh pada malam Lailatul Qadar. Maksud dari Ruh adalah Ruh yang berasal dari sisi Allah Swt, sebagaimana yang Allah Swt firmankan, “Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’: 85)

Tentang apakah Amr itu, terdapat pembahasan terperinci dalam Tafsir mulia Al-Mizan. Demi meringkas pembahasan, maka hanya akan dibahas dua riwayat yang membahas tentang turunnya malaikat dan apakah ruh itu.

Rasulullah saw bersabda: “Pada malam Lailatul Qadar, para Malaikat yang berada di Sidratul Muntaha -yang di antaranya adalah Malaikat Jibril- akan turun. Malaikat Jibril akan turun bersama yang Malaikat lain sambil membawa bendera-bendera. Satu bendera akan dipasang di atas kuburku, satu lagi di atas Baitul Muqaddas, satu lagi di atas Masjidul Haram dan satunya lagi di Bukit Sina. Dan tak satu pun laki-laki mukmin dan wanita mukminah di tempat-tempat ini yang tidak mendapat salam dari Jibril, kecuali mereka yang selalu minum arak atau terbiasa memakan atau mengoles tubuhnya dengan za’faron[7].

Telah ditanyakan pada Imam Shadiq as tentang ruh. Imam bersabda: “Ruh lebih agung dari Jibril. Sedang Jibril sejenis Malaikat dan Ruh tidak sejeis dengannya. Apakah kau tidak melihat Allah berfirman, “turun malaikat-malaikat dan ruh”, jelaslah ruh bukanlah Malaikat”.[8]

4.     Kedamaian dan Keamanan:

Ketika mensifati malam Lailatul Qadar ini, Al-Qur’an menyebutkan,“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5). Kata Salâmun yang berartikan kesejahteraan atau keselamatan menunjukkan akan keterbebasan dari kerusakan lahiriah maupun batin. Kata-kata ini mengisyaratkan akan rahmat Allah Swt yang meliputi seluruh hamba yang menghadap kepada-Nya dimana pintu-pintu azab-Nya akan tertutup pada malam Lailatul Qadar hingga terbit fajar. Hal ini melazimkan bahwa Syaitan akan terbelenggu pada malam suci ini, dengan artian godaannya tidak akan berpengaruh sebagaimana yang diisyaratkan dalam banyak riwayat. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksud kata Salâmun ini ialah, bahwa pada malam Lailatul Qadar para Malaikat akan memberi salam pada setiap mukmin yang sibuk beribadah.


[7] Majma’ Al-Bayân, jil. 10, hal. 520.
[8] Tafsir Al-Bur ân, jil, 4, hal. 488, baris 26.


Sumber  : Lailatul Qadar Dalam Pandangan Allamah Thabathaba’i



Read more...

Lailatul Qadar Dalam Pandangan Allamah Thabathaba’i (1)

Oleh Husain Mullanuri

Artikel saya bagi dalam 2 bagian untuk memudahkan pengkajian, dimana bagian kedua silahkan ikuti tautan di bawah.

Bag. 1

Even terpenting dalam bulan suci Ramadhan ialah malam Lailatul Qadar yang senantiasa dan selalu menjadi perhatian kaum muslimin. Pembahasan yang akan kita kaji ini, berkaitan dengan pandangan Allamah Thabathaba’i seputar malam Lailatul Qadar yang beliau sampaikan dalam tafsir Al-Mizan saat menafsirkan dua surah, Al-Qadar dan Ad-Dukhan. Semoga pembahasan yang sederhana ini dapat bermanfaat, khususnya bagi para da’i agar dapat menyampaikanya kembali kepada masyarakat –khususnya pada malam-malam ihya- sehingga ia dapat menjadi petunjuk yang baik bagi mereka.

Arti malam Lailatul Qadar

Maksud dari Qadar ialah pengkadaran atau pengukuran, sedangkan malam Lailatul Qadar adalah malam pentakdiran dan pengukuran. Pada malam ini, Allah Swt akan menentukan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi selama setahun ke depan, dan menetapkan kehidupan, kematian, rezeki, keselamatan dan kesesatan bagi manusia.

Kapankah malam Lailatul Qadar akan tiba?

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an tidak ditemukan satu pun ayat yang dengan gamblang menjelaskan kapan terjadinya malam Lailatul Qadar. Akan tetapi dari sejumlah ayat Al-Qur’an dapat dipahami, bahwa malam agung ini ialah salah satu malam dari malam-malam bulan suci Ramadhan.

Sebagaimana yang kita saksikan, Allah Swt dalam sebuah ayat berfirman,“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi”, (QS. Ad-Dukhan: 3). Dari ayat ini dapat difahami bahwa Allah Swt menurunkan Al-Qur’an secara sekaligus di malam yang penuh diberkahi. Kemudian dalam ayat lainnya Allah Swt pun berfirman “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185). Dalam ayat ini, secara gamlang Allah Swt menyatakan bahwa Al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan. Di dalam salah satu ayat surah Al-Qadar, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) dalam Malam Qadar”. (QS. Al-Qadar: 1).

Dari sekumpulan ayat-ayat ini dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, malam yang diberkahi yang menjadi bagian dari malam-malam bulan Ramadhan. Yang menjadi bahan pertanyaan di sini, malam manakah dari malam-malam bulan suci Ramadhan yang merupakan malam Lailatul Qadar? Tidak terdapat dalil dalam ayat-ayat al-Qur’an yang sekaitan dengan permasalahan ini. Dimana ia hanya akan ditemukan di dalam riwayat-riwayat.

Dalam sebagian riwayat yang dinukil dari para Imam suci Ahlul Bayt disebutkan, malam Lailatul Qadar berkisar antara malam ke-19, ke-21 dan ke-23. Dalam sebagian riwayat lain dikatakan, berkisar antara malam ke-21 dan ke-23. Sedang dalam sebagian lainya, memastikan malam suci ini tiba pada malam ke-23[1]. Tidak diungkapkannya satu malam tertentu bagi malam Lailatul Qadar, bertujuan guna menjaga kemuliaan malam ini, sehingga –dengan kebodohan- seorang tidak akan menodai kesuciannya dengan dosa-dosa yang akan diperbuatnya malam itu.

Atas dasar ini, menurut riwayat Ahlul Bait as, malam Lailatul Qadar ialah salah satu malam di antara malam-malam bulan Ramadhan, yaitu salah satu dari malam-malam ke-19, ke-21 dan ke-23. Sementara riwayat-riwayat Ahli Sunah sekaitan permasalahan ini, tidak memiliki persepsi sama anatara satu dengan lainnya, sehingga sulit untuk menggabungkan persepsi yang ada. Hanya saja, sudah terkenal dalam kalangan Ahli Sunah bahwa malam ke-27 bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar dan pada malam ini Al-Qur’an diturunkan[2].


Malam Lailatul Qadar tiba setiap tahun

Malam Lailatul Qadar tidak hanya terbatas pada malam saat turunnya Al-Qur’an, yaitu pada tahun ketika Al-Qur’an diturunkan. Oleh sebab itu, di setiap tahun pada bulan Ramadhan akan terdapat malam Lailatul Qadar yang di dalamnya ditentukan perkara-perkara setahun ke depan. Dalam membuktikan klaim ini, terdapat beberapa dalil yang diantaranya ialah:

Pertama: Turunnya Al-Qur’an secara sekaligus pada salah satu malam Lailatul Qadar 14 abad yang lalu adalah satu hal yang mungkin saja terjadi. Akan tetapi penetapan peristiwa-peristiwa seluruh abad yang telah lalu dan yang akan datang –dari malam itu- menjadi suatu yang tidak bermakna.

Kedua: karena kata يفرق dalam ayat suci فيها يفرق كل امر حكيم (Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.)[3], ialah Fi’il Mudhari’ yang megandung arti masa sekarang (present). Oleh sebab itu, kata tersebut menyampaikan makna kontinuitas. Demikian pula, kata تنزل dalam ayat mulia تنزل الملئكه والروح فيها باذن ربهم من كل امر (Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.)[4] juga menunjukkan kontuinitas karena i jug berbentuk Fiil Mudhari’.

Ketiga: Dari firman Allah Swt, “ bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” (QS. Al-Baqarah: 185), dapat disimpulkan bahwa malam Lailatul Qadar akan terus terulang pada malam bulan-bulan Ramadhan dan tidak hanya terbatas pada satu malam Ramadhan saat diturunkannya Al-Qur’an.


Terkait hal ini, Syaikh Thusi menukil sebuah riwayat dari Abu Dzar, beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, Apakah malam Lailatul Qadar adalah malam yang dijanjikan pada para Nabi dan diturunkan urusan-urusan pada mereka. Namun dikarenakan mereka sudah tiada, lantas perkara tersebut tidak lagi diturunkan? Rasulullah Saw menjawab, Tidak! Tetapi malam Lailatul Qadar (akan ada) sampai hari Kiamat[5]”.


Kebesaran Malam Qadar

Dalam Surah Al-Qadar disebutkan, “Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Apabila Allah Swt sekedar ingin menjelaskan kebesaran malam Lailatul Qadar, cukup dengan Dia berfirman, “Dan tahukah kamu apakah ia? ia lebih baik dari seribu bulan”. Artinya, bisa saja Allah Swt dalam firman-Nya menggunakan kata ganti dari malam Lailatul Qadar (yang diartikan dengan malam kemuliaan) pada ayat kedua dan ketiga. Akan tetapi Allah Swt tetap menyebutkan kalimat Lailatu al-qadr guna menunjukkan kebesaran Malam tersebut.

Kemudian Allah Swt menjelaskan kebesaran malam ini dengan berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Malam ini dikatakan lebih baik dari pada reribu bulan ialah dari sisi keutamaan ibadah di dalamnya. Hal ini sesuai dengan tujuan diturunkannya Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an menginginkan agar manusia mendekatkan diri kepada Allah dan mengajak manusia kepadanya. Oleh karenanya, beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Telah ditanyakan pada Imam Jakfar Shadiq as, “Bagaimana mungkin Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan?” (padahal dalam seribu bulan itu ada satu Malam Qadar dalam setiap dua belas bulannya). Imam menjawab, “Ibadah pada Malam Qadar lebih baik dari ibadah dalam seribu bulan yang di dalamnya tidak ada Malam Qadar[6]”.

[1] Tafsîr Majma’ Al-Bayân, jld. 10, hlm. 519.
[2] Tafsîr Ad-Dur Al-Mantsur, jld. 6.
[3] QS. Ad-Dukhan: 4.
[4] QS. Al-Qadr: 4.
[5] Tafsir Al-Burhan, jil, 4, hal. 488, baris 26.
[6] Furu’ Kafi, jil. 4, hal. 157, baris 4.

Lanjut ke Bag. 2

Read more...

Enter Your email to Get Update Articles

Delivered by FeedBurner

Random Articles

Powered by Blogger.

Recent Comments

" Pro-Log for the Light Of AT TSAQOLAIN "

  © Free Blogger Templates Cool by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP