Jibril Al Amin As di Ghadir Khum :

" Rasul (umat) ini telah mengikat perjanjian abadi setiap Mukmin yang tiada yang akan berpaling kecuali tidak Percaya Tuhan "

December 4, 2009

Ghadir Khum Dalam Perpektif Rahbar

Ghadir Dalam Persepsi Ayatollah Al-Udzma Khamenei

Peristiwa Ghadir yang Bersejarah [1]

Mengenai asal peristiwa Ghadir, mereka yang menyukai kajian sejarah hendaknya tahu bahwa Ghadir Khum adalah peristiwa yang memang benar-benar telah terjadi. Tak ada keraguan di sini. Bukan hanya Syiah yang meriwayatkannya tetapi juga para muhaddits dari kalangan Sunni, baik para muhaddits Sunni terdahulu maupun masa pertengahan dan kontemporer. Mereka menukil dan meriwayatkan kisah bersejarah ini. Peristiwa ini terjadi di tempat bernama Ghadir Khum pada waktu Nabi Muhammad Saw bepergian untuk melaksanakan haji wada’. [2]. Sebagian anggota rombongan besar Nabi Saw berjalan di depan dan telah mendahului beliau. Nabi Saw mengirim utusan dan meminta mereka untuk kembali. Beliau sendiri memerintahkan rombongan yang bersamanya untuk berhenti di sana menantikan rombongan yang berada di belakang mereka. Terjadilah perkumpulan kolosal. Sebagian menyebutkan bahwa jumlah mereka 90 ribu orang, sebagian menyebut angka 100 ribu dan sebagian bahkan meyakini jumlah mereka yang hadir waktu itu mencapai 120 ribu orang.

Udara saat itu panas menyengat. Bahkan, banyak orang yang meski tinggal di gurun pasir dan wilayah pedesaan yang tandus di Jazirah Arabia dan terbiasa dengan hawa panas tak kuasa menahan teriknya panas saat itu. Pasir di bawah kaki terasa membakar sehingga mereka terpaksa meletakkan kain selendang di bawah kaki sekedar untuk menawar rasa panas. Masalah ini juga disinggung dalam riwayat di buku-buku hadis Ahlussunnah. Dalam kondisi seperti itu, Nabi Muhammad Saw berdiri di hadapan mereka dan mengangkat tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) di depan umat sambil bersabda:

...من كنت مولاه فهذا على مولاه، اللهم وال من والاه و عاد من عاداه

“Barang siapa meyakini aku sebagai pemimpinnya maka ini Ali adalah pemimpinnya pula. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Tentunya kata-kata Nabi Saw itu ada awal dan lanjutannya. Namun yang tadi disebutkan adalah bagian terpenting dari riwayat ini. Nabi Saw lewat sabdanya secara jelas mengangkat masalah wilayah -yakni kepemimpinan Islam-. Beliau menobatkan Amirul Mukminin Ali (as) sebagai sosok pemimpin. Masalah ini disebutkan dalam kitab-kitab yang diakui oleh saudara-saudara Sunni kita, bukan hanya dalam satu atau dua kitab saja tetapi dalam puluhan kitab mereka. Allamah Amini telah melakukan studi terkait hal ini dan hasilnya beliau catat dalam kitabnya, ‘Al-Ghadir’. Selain karya beliau tadi ada banyak kitab lain yang ditulis terkait masalah ini.


Pentingnya Idul Ghadir

Tak syak bahwa hari raya Ghadir memiliki sisi signifikansi yang tinggi. Dalam banyak riwayat Islam disebutkan bahwa keagungan hari ini bahkan melebihi keagungan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun itu bukan berarti mengurangi kebesaran dua hari raya Islam itu. Tetapi lebih berarti bahwa hari raya Ghadir mengandung satu masalah yang lebih agung, sehingga sejumlah riwayat mengunggulkannya di atas hari-hari besar yang lain. Masalah terpenting yang ada pada hari raya ini adalah masalah wilayah atau kepemimpinan. Mungkin dapat dikatakan bahwa tujuan dari semua jerih payah yang ditanggung oleh Nabi Muhammad Saw, para tokoh besar agama dan para nabi utusan Allah –salam Allah atas mereka semua- adalah demi tegaknya kepemimpinan Ilahi. Ada sebuah hadis yang mungkin diriwayatkan dari Imam Jafar Shadiq (as), beliau menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah (fi sabilillah) adalah rangkaian kerja keras untuk agama yang tujuannya;

«ليخرج الناس من عبادة العبيد الى عبادة الله و من ولاية العبيد الى ولاية الله.»

“Untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan hamba kepada penyembahan Allah dan dari kepemimpinan (wilayah) hamba kepada wilayah Allah.”

Tujuannya adalah mengeluarkan umat manusia dari wilayah hamba -dalam pengertian maknanya yang luas- kepada wilayah dan kepemimpinan Allah. Hanya saja, terkait dengan tema Idul Ghadir ada satu poin lagi yaitu bahwa wilayah memiliki dua ruang dan area utama; pertama ruang jiwa manusia. Artinya, manusia harus bisa menempatkan kehendak Ilahi menguasai dan memimpin jiwanya sehingga dirinya akan masuk ke dalam lingkup wilayah Allah. ini adalah langkah awal dan paling utama. Selagi langkah ini belum ditempuh maka langkah kedua tak akan pernah ada.

Ruang kedua adalah bahwa manusia harus memasukkan lingkungan kehidupannya ke dalam wilayah dan kepemimpinan Allah. Dalam arti bahwa masyarakat bergerak dengan landasan kepemimpinan Ilahi. Tak ada kekuasaan apapun baik uang, keluarga, suku, kekuatan, adat istiadat dan kebiasaan keliru yang bisa menghalangi kepemimpinan Allah atau unjuk kekuatan di depan wilayah Ilahi.

Sosok pribadi yang diperkenalkan pada hari seperti ini -untuk mengemban wilayah Allah- adalah sosok mulia Amirul Mukminin (as). Beliau adalah insan yang teladan dan pribadi panutan dalam mengamalkan wilayah pada dua ruangnya. Beliau telah berhasil menundukkan jiwa dan hawa nasfu yang merupakan ruang wilayah Allah yang pertama. Beliau juga telah mengabadikan praktik kepasrahan kepada wilayah Allah dalam ruang kedua yaitu lingkungan kehidupan. Sejarah telah mengabadikan model pemerintahan Islam dan kepemimpinan Ilahi yang beliau tunjukkan. Siapa saja yang ingin menyaksikan model paling sempurna dari wilayah Ilahi ini dapat mencarinya pada perilaku Imam Ali (as).


Signifikansi Pengurusan yang Ideal

Hari Ghadir ketika Amirul Mukmin Ali bin Abi Thalib as telah ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat pasca beliau adalah satu peristiwa besar dan amat bermakna. Pada hakikatnya ini adalah intervensi Rasulullah SAW dalam masalah pengurusan atau kepemimpinan atas umat. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah ini menunjukkan bahwa Islam sangat peduli terhadap masalah pengurusan masyarakat. Jangan kira bahwa Islam berlepas tangan dan menyepelekan masalah tatanan dan kepemimpinan umat ini. Ini tak lain karena pengurusan masyarakat adalah bagian yang paling signifikan dalam masalah kemasyarakatan.

Terpilihnya Imam Ali as sebagai pemimpin telah memperjelas kedalaman dimensi masalah pengurusan umat, mengingat di tengah para sahabat Nabi SAW Imam Ali as adalah personifikasi ketakwaan, keilmuan, keberanian, pengorbanan, dan keadilan. Personifikasi inilah yang dipandang penting oleh Islam menyangkut masalah pengurusan umat. Pihak yang tidak menerima Imam Ali as sebagai penerus langsung Rasulullah SAW pun juga mengakui kehebatan ilmu, kezuhudan, ketakwaan, keberanian dan pengorbanan beliau demi kebenaran dan keadilan. Ini adalah realitas yang akui oleh seluruh umat Islam dan oleh siapapun yang mengenal Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Terpilihnya Imam Ali as telah memperlihatkan bagaimana pengelolaan dan pemerintahan yang ideal bagi masyarakat Muslim menurut Islam dan Rasulullah SAW.


Hakikat Nyata dan Tersembunyi dari Ghadir

Ada banyak hakikat di balik peristiwa Ghadir. Gambaran luar peristiwa itu adalah bahwa sekembalinya dari haji, Nabi Muhammad Saw di Ghadir Khum telah menyelesaikan masalah pemerintahan dan kepemimpinan –dengan maknanya yang luas- atas masyarakat Muslim yang baru berusia sepuluh tahun sejak kelahiran Islam, dengan menobatkan Amirul Mukminin (as) sebagai penerus beliau. Gambaran luar dari peristiwa ini memang merupakan hal yang sangat krusial, dan bagi mereka yang gemar melakukan penelitian dan merenungkan transformasi sebuah masyarakat revolusioner pasti akan memandangnya sebagai hikmah yang diatur oleh Allah. Akan tetapi, di balik gambaran luar tersebut ada serangkaian hakikat agung yang jika diperhatikan dengan baik akan menyinari jalan kehidupan umat Islam. Jika umat Islam –termasuk Syiah yang memandangnya sebagai masalah imamah dan wilayah maupun kelompok non Syiah yang tidak mengartikannya dengan makna imamah meski mengakui kebenaran riwayat ini- menaruh perhatian yang benar terhadap poin-poin penting di balik peristiwa Ghadir, mereka akan memperoleh banyak manfaat darinya.

Salah satu poin penting tersebut adalah bahwa pemaparan figur Amirul Mukminin Ali (as) untuk memimpin umat telah memperjelas tolok ukur dan nilai pemerintahan. Dalam peristiwa Ghadir, disaksikan oleh umat Islam dan sejarah, Nabi Muhammad Saw telah menunjuk seseorang yang telah merangkai seluruh nilai-nilai kemuliaan Islam secara penuh pada dirinya. Dia adalah insan yang mukmin, punya kedudukan tinggi dalam ketaqwaan, dikenal dengan pengorbanannya untuk agama, tak tergiur oleh gemerlap dunia, teruji di semua medan perjuangan Islam; medan yang penuh bahaya, medan ilmu dan pengetahuan; medan menghakimi perkara, dan lain sebagainya. Artinya dengan dinobatkannya Amirul Mukminin Ali (as) sebagai pemimpin, imam dan wali bagi masyarakat Muslim, seluruh umat Islam sepanjang sejarah harus menangkap pesan ini bahwa penguasa Islam haruslah insan yang memiliki kriteria-kriteria seperti itu atau mendekati kriteria ideal tersebut. Karena itu, dalam masyarakat Islam, orang yang tak punya kriteria agung itu –dalam pemahaman Islamnya, amal, jihad, infak, pengorbanan, tawadhu, dan rendah hati di depan hamba Allah yang kesemuanya adalah sifat-sifat yang ada pada diri Amirul Mukminin (as)- maka ia tak berhak duduk sebagai pemimpin. Nabi Saw telah menunjukkan kriteria-kriteria tersebut kepada umat Islam. Ini adalah pelajaran yang tak akan terlupakan.

Poin berikutnya yang dapat difahami dari peristiwa Ghadir adalah persepsi Amirul Mukminin (as) tentang keadilan Ilahi dan Islami. Hal itu telah beliau tunjukkan dalam beberapa tahun masa khilafah dan pemerintahannya. Keadilan itulah yang menjadi tujuan pengutusan para nabi, penurunan kitab-kitab samawi dan pensyariatan agama.

لیقوم الناس بالقسط

“…supaya manusia melaksanakan keadilan…” (Q.S. Al-Hadid: 25)

Keadilan yang diajarkan dalam Islam adalah yang menjamin tegaknya keadilan hakiki. Masalah ini adalah masalah prioritas dalam pandangan Amirul Mukminin (as).


Pemahaman Wilayah dalam Peristiwa Ghadir

Terkait tema Ghadir, Nabi Muhammad Saw telah mengamalkan Al-Quran dan melaksanakan kewajiban paling besar yang diperintahkan Allah Swt kepada beliau.



وإن لم تفعل فما بلغت رسالته

“Dan jika engkaui tak melaksanakannya berarti engkau tidak pernah menyampaikan risalahNya.” (Q.S. Al-Maidah: 67)

Masalah pengangkatan Amirul Mukminin Ali (as) untuk kedudukan wilayah dan khilafah adalah masalah yang sedemikian penting, sehingga [Allah] berfirman bahwa jika Nabi tidak melaksanakan perintah pengangkatan Ali, berarti beliau tidak menyampaikan risalah Allah. Ini bisa diartikan bahwa ‘Engkau tidak melaksanakan perintah dan risalah terkait hal ini’ padahal Allah telah memerintahkannya. Atau bahkan maknanya lebih dari itu, yakni dengan tidak melaksanakan perintah ini pelaksanaan misi kenabian beliau dipertanyakan.

Kemungkinan besar makna kedua inilah yang tepat. Seakan penyampaikan perintah soal kepemimpinan sama dengan risalah itu sendiri. Jika demikian halnya, berarti masalahnya sangat penting. Dengan makna itu berarti masalah pembentukan pemerintahan, soal kepemimpinan, dan pengaturan negara tergolong sebagai ajaran utama agama. Nabi Saw sendiri melaksanakan perintah itu dengan segala kebesaran. Perintah Allah itu disampaikan di depan khalayak umat dengan cara yang sangat agung. Mungkin tak ada satupun perintah Allah, baik solat, zakat, puasa, maupun jihad yang dilaksanakan Nabi Saw seagung pelaksanaan perintah ini. Saat itu beliau mengumpulkan semua orang dari berbagai golongan dan suku serta warga penduduk berbagai negeri di sebuah daerah yang merupakan jalan persimpangan Mekah dan Madinah demi misi yang sangat penting. Saat itulah beliau menyampaikan perintah Allah tersebut. Di dunia Islam pun segera tersebar berita bahwa Nabi telah menyampaikan sebuah pesan baru.


Makna Imamah dalam Peristiwa Ghadir

Imamah berarti puncak dari makna ideal pengurusan masyarakat yang berseberangan dengan pengurusan masyarakat yang tercemari kelemahan, syahwat, hawa nafsu, dan ambisi manusia. Islam telah mengenalkan kepada umat manusia konsep imamah. Artinya, orang yang mendapat tugas imamah adalah sosok manusia yang hatinya terpenuhi dengan hidayah Ilahi dan mengenal dengan baik ilmu-ilmu agama. Dia mampu menentukan jalan yang benar dan punya kekuatan untuk bertindak.

یا یحیی خذ الکتاب بقوة و آتیناه الحکم صبیا

“Wahai Yahya ambillah kitab dengan kekuatan (sungguh-sungguh), dan Kami telah memberinya hikmah saat ia masih kanak-kanak” (Q.S Maryam: 12)

Dia tak mementingkan jiwa, kesenangan dan kehidupan pribadi. Baginya, jiwa, kesenangan dan kehidupan umat manusia adalah segalanya. Amirul Mukminin Ali (as) dalam memerintah selama kurang dari lima tahun telah menunjukkan hal itu dalam tindakan. Masa yang kurang dari lima tahun –usia khilafah Amirul Mukminin as- telah menjadi periode panutan dan teladan yang tak akan terlupakan bagi kemanusiaan. Masa itu tetap bersinar meski telah berlalu berabad-abad lamanya dan akan tetap bersinar. Inilah pelajaran, makna dan tafsir yang hakiki dari peristiwa Ghadir.

Ghadir dan Persatuan Umat Islam

Masalah Ghadir bisa menjadi alasan untuk menjalin persatuan. Mungkin sekilas cukup mengherankan. Akan tetapi begitulah kenyataannya. Terlepas dari sisi kepercayaan kalangan Syiah yang meyakininya sebagai pilar aqidah –yakni penobatan Amirul Mukminin Ali (as) sebagai pemimpin oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam hadis Ghadir- masalah Ghadir memaparkan prinsip wilayah. Soal wilayah tak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni. Jika umat Islam di dunia dan berbagai bangsa di negara-negara Islam serentak menyuarakan slogan wilayah Islam (kepemimpinan Islam) tentu akan banyak pekerjaan yang selama ini tak terjamah dan kesulitan yang tak terurai akan teratasi, dan negara-negara Islam akan semakin mendekati penyelesaian problematika yang dihadapinya.



==============

[1] Ghadir Khum adalah nama sebuah tempat di antara Mekah dan Madinah yang dilalui oleh para hujjaj. Ghadir dalam bahasa Arab berarti telaga atau kolam. Daerah ini dikenal dengan nama Ghadir Khum karena disana terdapat sebuah kolam yang menampung genangan air hujan. Di tempat ini, Nabi Muhammad Saw sepulang dari hajjatul wada’ atau haji perpisahan, mengumpulkan seluruh kaum muslimin yang ikut menunaikan haji bersama beliau untuk mengumumkan bahwa Allah telah menunjuk Ali bin Abi Thalib (as) sebagai washi, saudara dan penerus Nabi Saw. Di sinilah Nabi Saw menyampaikan sabdanya yang terkenal;

من کنت مولاه فهذا علی مولاه

“Barang siapa yang meyakini diriku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya pula.”

Hadis yang merupakan penggalan khotbah Rasul Saw yang panjang ini diakui kebenarannya oleh Syiah dan Ahlussunnah.

[2] Sejak awal bulan Dzulqa’dah tahun 10 hijriyah, Nabi Saw telah mengumumkan ke berbagai daerah dan kepada seluruh kabilah Muslim di Jazirah Arabia bahwa beliau akan bertolak ke Mekah tahun itu untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan demikian, tahun itu sejumlah besar umat Islam hadir dalam pertemuan akbar haji yang dikenal dengan hajjatul wada’ atau haji perpisahan.

Sumber : Situs Rahbar


[Selengkapnya...]

December 3, 2009

Hezbollah New Manifesto

We Want Strong, United Lebanon

Hezbollah Secretary General Sayyed Hasan Nasrallah announced on Monday the Resistance party's new political document that was approved during the party's General Conference that lasted for months.

Sayyed Nasrallah held a press conference through a giant screen at al-Jinan hall on the airport road to declare the new political document. The press conference was attended by prominent Lebanese, Arab and international journalists as well as some Hezbollah leaders and various political figures.

His eminence started the conference by noting that Hezbollah new political document aims to define the political vision of the party and includes its visions, stances, and aspirations. "This political document also comes as a result of the responsibility of sacrifice that we have experienced," his eminence added.

"At an exceptional time filled with transformations, it is no longer possible to address these changes without noting the special position our resistance has reached. We will address these transformations through two paths: the first is the Resistance one that resorts to the military and political victories as well as the expansion of the Resistance while the second focuses on the path of the US-Israeli mastery and hegemony which is witnessing military defeats that showed a failure in administering the developments."

"What strengthens the international hegemony system crisis are the actual collapses in the financial markets and the entry of the US economy in a situation of failure. Therefore, it's possible to say that we are amid historical transformations that signal the retreat of the US role as a predominant power and the demise of the Zionist entity."

"The resistance movements are at the heart of international transformations and emerge as a strategic factor after performing a central role in producing those transformations in our region," Sayyed Nasrallah read out, adding that the Resistance in Lebanon was the first to fight occupation and perceived since the beginning that it will reach victory at the end. "Through its long path and its depicted victories, the Resistance's project has grown from a liberation power to a balance and confrontation one to a defense and deterrence one in addition to its political and internal role as an influencing basis in building the just and capable state. The Resistance in Lebanon has evolved from a Lebanese national value to an Arab and Islamic value and has become today an international value that's taught all over the world."

"Hezbollah does not underestimate the size of current challenges and threats or the severity of the confrontation path. However, Hezbollah has now clearer choices and more trust in its people. In this context, Hezbollah defines the main headlines that constitutes a political and intellectual framework of its vision and stances towards the challenges," Hezbollah Secretary General read out, concluding the manifesto's introduction.

CHAPTER ONE – DOMINATION AND HEGEMONY

"Following the World War II, the United States became the center of polarity in the world, taking advantage of accomplishments on several levels of knowledge, including education, science and technology that are supported by an economic system that only views the world as markets that have to abide by the American own view. The most dangerous thing in their hegemony is that they consider that they own the world and therefore, the Western expanding strategy turned to be an international one without limits," Hezbollah new manifesto says, according to Sayyed Nasrallah.

"Globalization has reached its most dangerous aspect when it turned to a military one led by those following the Western plan of domination and was reflected in the Middle East in Afghanistan, Iraq, Palestine and Lebanon. This plot found its peak with the neoconservative grip under the administration of George Bush since their project found its way to execution after he was sworn in. It was neither weird nor surprised that what the neoconservative platform focused on the most was rebuilding US capabilities what reflected a strategic vision of US national security through building military strategies not only as a force of deterrence but also as a force of action and intervention. Following the September 11 attacks, the Bush administration found that the opportunity was appropriate to exercise the largest possible influence under the slogan of universal war against terrorism. It has performed many attempts that were considered as successful in the beginning based on militarizing relationships with other countries and on having monopoly over decision-making by taking strategic decisions and rapidly ending war in Afghanistan to have the maximum amount of time for the next step, which is taking over Iraq and the foundation for launching the New Middle East project. Furthermore, the Bush administration sought to establish a conformity between terrorism and Resistance to remove the latter's legitimacy and therefore justify wars against its movements, seeking to remove the fundamental right of the nations of defending their right to live with dignity and national sovereignty."

"The Bush administration gave itself an absolute right to launch destroying wars that don't differentiate between human beings, given that the cost of the US terrorism wars has cost the humanity until now millions of people as well as global destruction. In brief, the Bush administration has transformed the United States into a danger that threatens the whole world."

"Terrorism has turned to be an American pretext for hegemony through many tools such as pursuit, arbitrary detention, unjust trials witnessed in Guantanamo as well as through direct meddling in the sovereignty of other countries and states in addition to impose sanctions against complete nations. The US terror is the root of all terror in the world."

"The failure and decline of the US strategy does not mean it will easily stop interfering, but will make an effort to protect its strategic interests. Indeed, if the whole world was suffering from the American hegemony, the Arab and Islamic nations seem to suffer even more for many considerations related to history, geographic site, civilization and culture. The Arab and Islamic world has always been subject to endless wild and savage wars. However, its most dangerous steps was reached with the creation of the Zionist entity. The central goal of the American hegemony resides in dominating the nations politically, economically, culturally and through all aspects. To achieve this goal, Washington resorted to different general policies and work strategies including providing the Zionist entity with stability guarantees, create sedition and divisions in the region especially sectarian ones."

"The American arrogance has left no choice to our nation and people but the choice of resistance, at least for a better life, and for a humanitarian future, a future governed by relations of brotherhood, solidarity and diversity at the same time in a world of peace and harmony."


CHAPTER TWO – LEBANON

CHAPTER TWO, SECTION ONE – THE HOMELAND


"Lebanon is our homeland and the homeland of our fathers, ancestors. It's also the homeland of our children, grandchildren, and the coming generations. It is the country to which we have given our most precious sacrifices for its sovereignty and pride, dignity and liberation," Sayyed Nasrallah read out from the political document introduction on Lebanon.

"We want Lebanon for all Lebanese alike, and we want it unified. We reject any kind of segregation or federalism, whether explicit or disguised. We want Lebanon to be sovereign, free, independent, strong and capable. We want it also to be strong, active, and present in the geopolitics of the region. We want it also to be a key contributor in making the present and the future."

"To conclude, it should be mentioned that one of the most important conditions for the establishment of a home of this type is having a fair state, a state which is capable and strong, as well as a political system that truly represents the will of the people and their aspirations for justice, freedom and security, stability and well-being and dignity. This is what all the Lebanese people want and work to achieve and we are a part of them."

CHAPTER TWO, SECTION TWO – THE RESISTANCE

"Israel represents an eternal threat to Lebanon – the State and the entity – and a real danger to the country in terms of its historical ambitions in land and water especially that Lebanon is considered to be a model of coexistence in a unique formula that contradicts with the idea of the racist state which expresses itself in the Zionist entity. Furthermore, Lebanon's presence at the borders of occupied Palestine obliged it to bear national and pan-Arab responsibilities."

"The Israeli threat to this country began since the laying of the Zionist entity in the land of Palestine, an entity that did not hesitate to disclose its ambitions to occupy some parts of Lebanon and to seize its wealth, particularly its water. Therefore, it sought to achieve these ambitions gradually. This entity started its aggression on Lebanon since 1948 from the border to the depth of the country, from the Hula massacre in 1949 to the aggression on the Beirut International Airport in 1968, including long years of attacks on border areas, their land, population and wealth, as a prelude to seize direct land through repeated invasions, leading to the March 1978 invasion and the occupation of the border area, making its people subject to its authority at all levels, as a prelude to subdue the whole country in the invasion of 1982."

"All of this was taking place with a full support of the United States and ignorance until the level of complicity of the so-called international community and its institutions amid a suspicious Arab official silence and an absence of the Lebanese authority at the time leaving the land and people subject to the Israeli occupation without assuming its responsibilities and national duties."

"Under this great national tragedy, Lebanese who are loyal to their homeland didn't have the choice but to use their right and proceed from their national duty and moral and religious in the defense of their land. Thus, their choice was: the launch of an armed popular resistance to confront the Zionist danger and permanent aggression."

"In such difficult circumstances, the process of restoring the nation through armed resistance started, paving the way for liberating the land and the political decision from the hands of the Israeli occupation as a prelude to the restoration of the State and the building of its constitutional institutions. The Resistance has crowned all these dimensions together through achieving the Liberation in 2000 and the historic victory in July 2006, presenting to the whole world a true experience in defending the homeland, an experience that turned into a school from which nations and states benefit to defend their territory, protect their independent and maintain their sovereignty."

"This national achievement was made real thanks to the support of a loyal nation and a national army, thus frustrating the enemy's goals and causing him a historic defeat, allowing the Resistance to celebrate alongside its fighters and martyrs as well as all of Lebanon through its nation and army the great victory that paved the way for a new phase in the region entitled pivotal role and function of the resistance to deter the enemy and ensure the protection of the country's independence, sovereignty and defend its people and completing the liberation of the rest of the occupied territory."

"The Resistance role is a national necessity as long as the Israeli threats and ambitions continue. Therefore, and in the absence of strategic balance between the state and the enemy, the Israeli threat obliges Lebanon to endorse a defensive strategy that depends on a popular resistance participating in defending the country and an army that preserves the security of the country, in a complementarity process that proved to be successful through the previous phase."

"This formula, developed from within the defensive strategy, constitutes an umbrella of protection for Lebanon, especially after the failure of other speculations on the umbrellas, whether international or Arab, or negotiating with the enemy. The adoption of the Resistance path in Lebanon achieved its role in liberating the land, restoring the State institutions and the protecting the sovereignty. Afterwards, Lebanese are concerned with safeguarding and maintaining this format because the Israeli danger threatens Lebanon in all its components, what requires the widest Lebanese participation in assuming responsibilities of defense."

"Finally, the success of the Resistance experience in fighting the enemy and the failure of all plots and schemes to delete resistance movements or besieging them or even disarming them annexed to the continuation of the Israeli threat in Lebanon obliges the Resistance to do its best to strengthen its abilities and consolidate its strengths to assume its national responsibilities and liberate what remains under the Israeli occupation in the Shebaa farms and Kfarshouba Drills and the Lebanese town of Ghajar as well as liberating the detainees and missing people and martyrs' bodies."

CHAPTER TWO, SECTION THREE – STATE AND POLITICAL SYSTEM

"The main problem in the Lebanese political system, which prevents its reform, development and constant updating is political sectarianism," Hezbollah manifesto clearly states.

"The fact that the Lebanese political system was established on a sectarian basis constitutes in itself a strong constraint to the achievement of true democracy where an elected majority can govern and an elected minority can oppose, opening the door for a proper circulation of power between the loyalty and the opposition or the various political coalitions. Thus, abolishing sectarianism is a basic condition for the implementation of the majority-minority rule."

"Yet, and until the Lebanese could reach through their national dialogue this historic and sensitive achievement, which is the abolishment of political sectarianism, and since the political system in Lebanon is based on sectarian foundations, the consensual democracy will remain the fundamental basis for governance in Lebanon, because it is the actual embodiment of the spirit of the constitution and the essence of the Charter of the co-existence."

"From here, any approach to the national issues according to the equation of the majority and minority awaits the achievement of the historic and social conditions for the exercise of effective democracy in which the citizen becomes a value in itself. Meanwhile, the Lebanese will to live together in dignity and equal rights and duties requires a constructive cooperation in order to consolidate the principle of true partnership, which constitutes the most appropriate formula to protect the full diversity and stability after an era of instability caused by the different policies based on the tendency towards monopoly, cancellation and exclusion."

"The consensual democracy constitutes an appropriate political formula to guarantee true partnership and contributes in opening the doors for everyone to enter the phase of building the reassuring state."

"Our vision for the State that we should build together in Lebanon is represented in the State that preserves public freedoms, the State that is keen on national unity, the State that protects its land, people, and sovereignty, the State that has a national, strong and prepared army, the State that is structured under the base of modern, effective and cooperative institutions, the State that is committed to the application of laws on all its citizens without differentiation, the State that guarantees a correct and right parliamentary representation based on a modern election law that allows the voters of choosing their representative away from pressures, the State that depends on qualified people regardless of their religious beliefs and that defines mechanisms to fight corruption in administration, the State that enjoys an independent and non-politicized Justice authority, the State that establishes its economy mainly according to the producing sectors and works on consolidating them especially the agriculture and industry ones, the State that applies the principle of balanced development between all regions, the State that cares for its people and works to provide them with appropriate services, that State that takes care of the youth generation and help young people to develop their energies and talents, the State that works to consolidate the role of women at all levels, the State that care for education and work to strengthen the official schools and university alongside applying the principle of obligatory teaching, the State that adopts a decentralized system, the State that works hard to stop emigration and the State that guards its people all over the world and protects them and benefits from their positions to serve the national causes."

"The establishment of a state based on these specifications and requirements is a goal to us just like it's the goal of every honest and sincere Lebanese. In Hezbollah, we will exert all possible efforts, in cooperation with the popular and political forces, to achieve this noble national goal."

CHAPTER TWO, SECTION FOUR – LEBANESE-PALESTINIAN TIES

"One of the tragic consequences of the emergence of the Zionist entity on the land of Palestine and the displacement of its inhabitants is the problem of Palestinian refugees who moved to Lebanon to live temporarily in its land as guests to their fellow Lebanese until returning to their homes from where they were expelled."

"The original and direct reason of the sufferance of Lebanese and Palestinians was actually the Israeli occupation of Palestine and all the resulting tragedies and calamities in the region. Moreover, the suffering of the Palestinian refugees in Lebanon was not limited to the pain of forced migration but also to the Israeli massacres and atrocities in addition to what happened in the Nabatiyeh camp that has been fully destroyed. Palestinian refugees are also deprived of all civilian and social rights since the Lebanese governments didn't assume their responsibilities towards them."

"The Lebanese authorities are nowadays called to assume their responsibilities and therefore build the Lebanese-Palestinian relations under right, solid and legal bases that respect the justice, rights and mutual interests' balances to both nations. It is imperative that the Lebanese-Palestinian relationship remains governed by the whims and moods, as well as political calculations and internal interactions and international interventions."

"We believe that succeeding in this mission requires a Lebanese-Palestinian direct dialogue, a permission for Palestinians in Lebanon to agree on a unified reference that represents them, providing Palestinian refugees with their social and civilian rights, committing to the Right of Return and reject settlement."

CHAPTER TWO, SECTION FIVE – LEBANON AND ARAB TIES

"Lebanon is committed to the just and fair Arab causes, at the top of which comes the Palestinian cause as well as the conflict with the Israeli enemy. Even more, there is a definite need for concerted efforts to overcome the conflicts that run through the Arab ranks."

"The contradiction of strategies and the difference of alliances, despite their seriousness and intensity, doesn't justify the policies of targeting or engaging in external projects, based on the deepening discord and inciting sectarianism, leading to the exhaustion of the nation and therefore serving the Zionist enemy in the implementation of the purposes of America."

"The Resistance choice constitutes once again a central need and an objective factor in strengthening the Arab stance and weakening the enemy. In this context, Syria has recorded a distinctive attitude and supported the resistance movements in the region, and stood beside us in the most difficult circumstances, and sought to unify Arab efforts to secure the interests of the region and challenges."

"Hence, we emphasize the need to adhere to the distinguished relations between Lebanon and Syria as a political and security and economic need, dictated by the two countries and two peoples and the imperatives of geopolitics and the requirements for Lebanese stability and common challenges. We also call for an end to all the negative sentiment that have marred bilateral ties in the past few years and urge these relations to return to their normal status as soon as possible."

CHAPTER TWO, SECTION SIX – LEBANON AND ISLAMIC RELATIONS

"The Arab and Islamic world is facing challenges that shouldn't be undermined. Indeed, the sectarian fabricated conflicts, especially between Sunnis and Shiites, are threatening the cohesiveness of our societies. Therefore, and instead of being a source of wealth, the sectarian diversities seem to be exploited as factors of division and incitement. The situation resulting from this bad use seems to be the result of the intersection of Western deliberate policies, the US in particular."

"Hezbollah emphasizes the necessity to cooperate will Islamic states at different levels to gain strength in confronting hegemony schemes. Such cooperation also serves in facing the cultural invasion of the community and media, and encourages the Islamic states to take advantage of its resources in the exchange of the different benefits between these countries."
"In this context, Hezbollah considers Iran as a central state in the Muslim world, since it is the State that dropped through its revolution the Shah's regime and its American-Israeli projects, and it's also the state that supported the resistance movements in our region, and stood with courage and determination at the side of the Arab and Islamic causes and especially the Palestinian one."

CHAPTER TWO, SECTION SEVEN – LEBANON AND INTERNATIONAL RELATIONS

"Hezbollah considers that the unilateral hegemony in the world overthrows the international balance and stability as well as the international peace and security. The unlimited US support for Israeli and its cover for the Israeli occupation of Arab lands annexed to the American domination of international institutions and the American meddling in various states' affairs and adoption of the principle of circulating wars puts the American administration in the position of the aggressor and holds it responsible in producing chaos in the international political system."

"The American administration's unlimited support to Israel ... places the American administration in the position of the enemy of our nation and our peoples."

CHAPTER THREE – PALESTINE AND COMPROMISE NEGOTIATIONS

"The history of the Arab-Israeli conflict proves that armed struggle and military resistance is the best way of ending the occupation. The method of negotiations has proven that the Zionist entity becomes more boastful and more belligerent, and that it has no intention of reaching an accord. The resistance has managed to achieve a huge victory over the Zionist entity, provide the homeland with protection, and liberation of the remainder of its land. This function is a lasting necessity before Israel's expansionist threats and ambitions as well as the lack of a strong government in Lebanon. The ongoing Israeli threat forces the resistance to continue to boost its capacity ... in order to fulfill its role in liberating occupied territory."

"We categorically reject any compromise with Israel or recognizing its legitimacy," his eminence concluded. "This position is definitive, even if everyone recognizes Israel." (abna/almanar)

[Selengkapnya...]

December 2, 2009

MAN : Tidak Seorangpun Dapat Isolasi Iran




"Tidak seorang pun dapat mengisolasi Iran karena interaksi global dan karakteristik unik Iran di Timur Tengah yang tidak akan membiarkan tindakan seperti itu," Ahmadinejad mengatakan kepada Saluran Satu IRIB Iran dalam wawancara langsung pada Selasa malam.

"Di era ketika semua orang ingin globalisasi, bicara tentang mengisolasi suatu negara menunjukkan kurangnya kesadaran atau kesombongan seseorang," tambahnya.

"Timur Tengah adalah wilayah yang paling penting di dunia dari ekonomi, geografis, budaya, dan perspektif sejarah," Presiden Iran menyatakan.

"Setiap negara yang ingin memainkan peran utama dalam interaksi global harus pertama-tama memiliki kehadiran yang efektif di Timur Tengah," kata Ahmadinejad.

Bicara tentang mengisolasi Iran adalah "milik masa lalu," katanya.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad telah mengatakan Iran tidak membutuhkan senjata nuklir untuk mempertahankan diri melawan musuh dan menekankan bahwa negara memiliki ideologi yang menentang senjata nuklir.

"[Nuklir] bom tidak punya tempat dalam doktrin pertahanan Iran," Ahmadinejad mengatakan kepada IRIB Channel One Iran dalam sebuah wawancara langsung pada Selasa malam.

"Klaim-klaim Barat bahwa Iran sedang berusaha mengembangkan bom nuklir sama sekali tak berdasar, dan kami telah berulang kali menyatakan bahwa kita tidak ingin mengembangkan [nuklir] bom," Presiden Iran menyatakan.

"Rahbar (Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei) telah menyatakan bahwa idiologi kita menentang [nuklir] bom," tambah Ahmadinejad.

Tehran telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya damai dan sedang aktif dalam kerangka peraturan internasional.

International Atomic Energy Agency telah melakukan berbagai inspeksi fasilitas nuklir Iran, tapi belum pernah menemukan bukti pun yang menunjukkan bahwa Iran sedang berusaha memproduksi senjata nuklir.

Sumber : Presstv/Islamtimes


[Selengkapnya...]

Khutbah Rasulillah Saww




Tentang Sifat Sifat ALLAH

Ibnu Walid meriwayatkan dari Ash-Shafar dan Sa’id dari Ibnu ‘Isa dan Ibnu Abi Al-Khathab dari Ibnu Mahbub dari Amr bin Abi Al-Miqdam dari Ishaq bin Ghalib dari Abu Abdillah as dari ayah-ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah saww berkata pada sebagian khutbahnya :

"Segala puji bagi Allah Yang Esa semenjak permulaan-Nya, Yang Agung dengan keilahian sejak azali-Nya, diagungkan karena kekuasaan dan kebesaran-Nya, memulai tanpa permulaan, menghidupkan apa-apa yang diciptakan tanpa ada sesuatu yang menyerupai dari yang diciptakan. Tuhan kami Qadim dengan kelembutan Rububiyah-Nya, dengan ilmu tampaklah pengetahuan-Nya, dengan ketetapan kekuasaan-Nya Ia menciptakan apa-apa yang telah diciptakan dengan cahaya subuh yang menyingsing maka tiada pergantian pada penciptaan-Nya, tiada perubahan pada buatan-Nya, tiada pergeseran pada hukum-Nya, tiada pilihan pada urusan-Nya, tiada penundaan pada panggilan-Nya, tiada kesurutan pada kekuasaan-Nya, tiada keterputusan pada masa-Nya, dan Dia adalah Wujud yang awal, kekal selamanya. Seluruh ciptaan-Nya, terhijab oleh cahaya-Nya di ufuk yang agung, kemuliaan yang tinggi, kekuasaan yang mulia, Mahatinggi atas segala sesuatu. Dia dekat dari segala sesuatu, Dia ber-tajalli pada ciptaan-Nya dengan tanpa terlihat, Dia Mahatinggi dalam kedudukan, Dia memenuhi kekuasaan-Nya dengan tauhid, meliputi dengan cahaya-Nya, tinggi dalam keluhuran-Nya dan tersembunyi dari ciptaan-Nya.

"Dia mengutus kepada mereka seorang rasul agar menjadi hujjah yang nyata atas makhluk-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai saksi atas mereka. Ia mengutus para nabi untuk mereka sebagai pemberi kabar gembira dan pembawa peringatan agar binasa orang yang binasa dengan keterangan dan menghidupkan orang yang hidup dengan keterangan pula. Dan agar hamba-hamba-Nya berpikir tentang Tuhannya apa yang ia tidak tahu dan mengenal-Nya dengan rububiyyah-Nya setelah mereka ingkar dan mengesakan-Nya dengan Ilahiyyah-Nya setelah mereka durhaka."


~ Wahjul Fashah [IY/Jawad]


[Selengkapnya...]

November 26, 2009

Pesan Haji Rahbar 1430H



Bismillahirrahmanirrahim

Musim haji identik dengan musim semi bagi spiritualitas dan memancarnya cahaya tauhid di ufuk dunia. Ritual haji tak ubahnya bagai mata air jernih yang bisa membersihkan pelaksananya dari segala kotoran akibat dosa dan kelalaian sekaligus mengembalikan sinar benderang fitrah ilahiyah ke dalam jiwa dan hatinya. Ritual menanggalkan segala bentuk pakaian kebesaran di miqaat dan menggantinya dengan baju ihram yang sama dan sewarna adalah simbol dari kesatuan umat Islam, sekaligus perintah untuk menjaga persatuan dan solidaritas di antara umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Dari satu sisi haji membawa syiar:

فَإلهکم إله واحد فله اسلموا و بشر المخبتین

"...maka Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa karena itu berserah dirilah kalian kepadaNya, dan berilah kabar gembira kepada mereka yang tunduk patuh (kepada Allah)" (Q.S. Al-Hajj: 34)

Sementara di sisi lain adalah seruan:

...و المسجد الحرام الذی جعلناه للناس سواء العاکف فیه و الباد

"...dan Masjidul Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia baik yang bermukim di sana maupun yang di padang pasir..." (Q. S. Al-Hajj: 25)

Demikianlah, selain sebagai simbol kalimah tauhid, Ka'bah juga menjadi lambang tauhid kalimah (persatuan) dan persaudaraan Islam.

Umat Islam yang berdatangan dari segala penjuru dunia ke tempat ini karena kerinduan bertawaf mengitari Kabah dan berziarah ke haram suci Rasulullah SAW, hendaknya memanfaatkan peluang yang ada untuk memperkokoh jalinan persaudaraan antara mereka, dan ini adalah satu dari sekian problematika besar yang dihadapi umat Islam. Hari ini, kita menyaksikan secara nyata betapa kaum durjana yang memusuhi dunia Islam kian getol menebar pertikaian di tengah umat. Karenanya, umat Islam kini merasakan adanya kebutuhan mendesak kepada persatuan dan solidaritas di antara mereka.

Hari ini, tangan-tangan musuh yang berlumur darah nampak sedang menebar petaka di setiap jengkal negeri-negeri Muslim. Palestina sedang meradang dalam nestapa yang semakin tragis di bawah kekuasaan kaum zionis yang bengis. Masjidul Aqsha berada dalam ancaman yang serius. Rakyat Gaza yang tertindas tengah berada dalam kondisi yang tersulit setelah didera pembasmian etnis yang tak ada bandingannya. Afganistan, kian tenggelam dalam petaka yang selalu terbarui setiap hari di bawah himpitan tentara pendudukan. Ketidakamanan di Irak telah merampas ketenangan rakyat di negeri itu. Dan kini, Yaman menambah luka umat Islam dengan berkobarnya perang saudara di sana.

Kaum Muslimin di seluruh dunia harus memikirkan bagaimana dan di manakah agenda serangan fitnah, perang, peledakan, aksi teror dan pembantaian buta yang memanggang Irak, Afganistan dan Pakistan -dalam beberapa tahun terakhir ini- diprogram dan disusun? Mengapa bangsa-bangsa di kawasan tidak mengalami derita dan petaka yang sedemikian tragis ketika bala tentara dari Dunia Barat yang dipimpin AS belum menjejakkan kaki dengan segala kepongahan di wilayah ini?

Dari satu sisi, kaum penjajah menyebut gerakan kebangkitan rakyat Palestina, Lebanon dan berbagai negeri lainnya sebagai teroris, namun di sisi yang lain mereka justeru memprogram dan mengarahkan terorisme buta dan partisan di tengah bangsa-bangsa di kawasan. Dalam rentang waktu cukup lama yang memanjang lebih dari satu abad, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara telah dijajah, dijarah dan dilecehkan secara bergilir oleh negara-negara Barat, Inggris, Prancis dan negara-negara lainnya sebelum akhirnya oleh Amerika Serikat (AS). Kekayaan alam mereka dirampas. Semangat kemerdekaan mereka dilumpuhkan. Bangsa-bangsa ini telah menjadi korban ambisi para agresor asing.

Setelah hembusan kebangkitan Islam menggugah dan bangsa-bangsa ini pun tersadarkan, kaum imperialis tak lagi bisa mempertahankan kondisi internasional yang mereka tata. Kematian syahid, mi'raj ke sisi Allah dan di jalan Allah kembali muncul menjadi faktor tak tertandingi yang menggerakkan jihad. Karena itu, kaum agresor bereaksi. Mereka menggunakan cara-cara licik dengan memunculkan imperialisme gaya baru. Hari ini, kaum imperialis dengan beragam rupanya telah mengerahkan segala sarana dan potensi untuk menundukkan Islam. Mereka mengerahkan segalanya dari pasukan militer, tangan-tangan besi, dan pendudukan secara terbuka, hingga rangkaian mesin-mesin media propaganda. Berbagai cara dan metode menebar kebohongan dan isu mereka lakukan. Para teroris dan pembunuh berdarah dingin diterjunkan. Sarana-sarana penebar kebejatan moral juga dimanfaatkan dan disebarluaskan. Candu dan narkotika diperbanyak dan ditebar. Semangat dan kesucian moral anak-anak muda jadi sasaran. Gempuran politik masif pun tak luput dikerahkan untuk melemahkan pusat-pusat perlawanan dan moqawamah. Sentimen kesukuan dan fanatisme madzhab dan kelompok ikut diusik untuk menebar permusuhan di antara saudara.

Jika antara bangsa-bangsa Muslim dan antara penganut berbagai madzhab Islam, atau suku-suku Muslim terjalin hubungan cinta kasih, sikap saling berbaik sangka dan solidaritas, tentu buruk sangka antara mereka -yang memang diinginkan oleh musuh- akan sirna. Saat itu, sebagian besar konspirasi busuk musuh akan lumpuh dan agenda mereka untuk semakin menancapkan kekuasaan atas umat Islam akan gagal. Ritual haji adalah salah satu momentum yang paling berharga untuk mewujudkan cita-cita yang luhur ini.

Dengan bekerjasama dan berpijak pada prinisp-prinsip kesamaan antara mereka yang telah dinyatakan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, umat Islam akan menjelma menjadi kekuatan yang mampu berdiri tegar di hadapan si angkara murka dan bahkan mampu membuatnya takluk di hadapan tekad dan keimanan Islam. Republik Islam Iran yang bergerak mengikuti bimbingan Imam Khomeini (ra) teladan yang nyata bagi sebuah resistensi yang sukses. Musuh tunduk di hadapan Republik Islam Iran.

Selama tiga puluh tahun musuh melakukan berbagai konspirasi, makar dan tipu daya untuk menundukkan bangsa ini. Kudeta, pemaksaan perang selama delapan tahun, sanksi, pembekuan aset kekayaan negara ini, perang urat saraf, propaganda miring, mobilisasi media massa, dan upaya mengganjal kemajuan sains baru termasuk teknologi nuklir telah mereka lakukan terhadap bangsa ini. Mereka juga merecoki dan melakukan intervensi secara terbuka dalam pemilu baru-baru ini yang berlangsung dengan sangat meriah dan penuh pesan. Semua itu dilakukan karena kebuntuan yang mereka rasakan.

انّ كيدالشيطان كان ضعيفاً

"Sungguh tipu daya syaitan itu sangat lemah" (Q.S. Al-Nisa: 76)

Firman Allah ini benar-benar kembali tersaksikan secara nyata di depan mata bangsa Iran.

Di manapun juga, ketika gerakan perlawanan menggeliat dan muncul dari tekad dan keimanan, rakyat akan terpanggil untuk tegar menghadapi kaum arogan bermulut besar. Saat itu kemenangan akan berpihak kepada kaum Mukmin dan kekalahan pasti akan menjadi pengalaman buruk bagi kaum durjana. Kemenangan moqawamah di Lebanon dalam perang 33 hari, demikin pula jihad dan kemenangan rakyat Gaza yang membanggakan dalam tiga tahun terakhir adalah bukti yang nyata dari hakikat ini.

Kepada para jemaah haji yang berbahagia, terlebih kepada para ulama dan penceramah dari berbagai negeri Islam yang kini berkesempatan hadir di tanah suci, juga kepada para khatib di al-Haramain al-Syarifain (Masjidul Haram dan Masjid Nabawi), dengan sepenuh hati saya berpesan untuk mengenal tugas dan kewajiban masing-masing hari ini, dengan memandang secara benar kondisi yang ada. Kerahkan segenap daya untuk memberitahukan kepada audien masing-masing akan konspirasi musuh-musuh Islam. Ajaklah umat untuk menjalin kasih sayang dan persatuan antara sesama. Hindari sepenuhnya segala hal yang dapat memicu sangkaan buruk antara sesama Muslim. Pekikkan suara penentangan terhadap kaum arogan, musuh-musuh umat Islam, khususnya biang segala fitnah, kaum Zionis dan AS. Nyatakan ikrar baraah, yakni berlepas diri dari kaum Musyrik, dalam kata-kata dan tindakan.

Kepada Allah, dengan segala kerendahan hati saya memohon petunjuk, taufik, tuntunan dan rahmatNya untuk diri ini dan untuk Anda sekalian.

Wassalamu'alaikum
Sayyid Ali Khamenei
3 Dzulhijjah 1430 Hijriyah

Source : Rahbar

[Selengkapnya...]

November 24, 2009

Stop Muslim Massacre in North Yemen






Statement of the Union of Islamic World Students on the
Muslim Massacre in Yemen

In the Name of Allah

The emergence of Islam resulted from the hard attempts of holy Prophet (A.S.) and his family and companions (Salamullah Alayhim) is a turning point in the history of human being, which caused lots of developments in the current civilization and one of the little achievements has gained from the pure tree (Shajare Tayebe) is the expansion of reading and writing and world-wideness of the sciences in the Islam world and transition of these sciences into Spain, Italy, Germany, other nations and then all over the world.

In this way without the turning point, there was no civilization like ancient Egypt, Iran and Rome in the current civilization.

There are many reasons for the truth but unfortunately the falsely developed and Zionism-led society of west has started a vast psychological war against Islam world that leads by known persons like Bush & Sharon and their middle east servants are royal regimes (dictator) which do everything for them to maintain their kingdom.

The regimes which established on the base of royalty, not democracy (vote of people), like the Wahhabi regime of Ale Saud which has committed many crimes against Muslim nations like Palestine, Lebanon, Iran, Iraq, Afghanistan, Pakistan and so on.

And even in 1987, the regime martyrs the Muslims from different countries who have expressed their disgust at the current atheists (according to context of Quran) and now they are committing another crime in Yemen.

Another human disaster is happening in 21th century. Again, killing, massacre, bombing innocent people, and slaughter of women and children!!!

After providing the fuel of Zionist regime`s tanks in the war of Gaza & Lebanon, and expanding Wahhabi thoughts in the Islamic & non-Islamic countries by the name of Taliban & Al-Qaeda, now the leaders of Riyadh are invading homes and land of Yemen and killing women & children.

Why should the North of Yemen's people be attacked by the bombs and missiles and innocent women and children killed?

Why should these brothers kill each other concurrent with the days of Hajj, Ayyamullah, the greatest symbol of Muslim unity?

Custodians of holy shrines! Where are you going? Why are you obeying the superpowers and arrogance?

We, Muslim students, condemn the massacre of oppressed Muslims and emphasis following cases:


  1. We want Saudi Arabia and Yemen government to stop the violations against innocent people of Sa'da.
  2. We, Muslim students, announce: We know the unfair policy causing disunity among Muslims and see the hands of U.S. and Zionist regime behind the events.
  3. We back the oppressed Muslim of Sa'da and want Allah to free them from the oppressors and announce that resistance against superpowers is the only way of liberty & freedom.
  4. We want the organization of Islamic conference, international organizations and Islamic governments to do their real duty and prevent the holocaust happening in Yemen.
  5. We want other Muslim nations to support the oppressed Muslims of Yemen and do their best to free them from the tyranny.
  6. We, students of Islam world, expressed our disgust at the silence of Islamic organizations & governments and announce that the violation is completely inconsistence with islamic principles.




[Selengkapnya...]

Private Sounds

Tautan Blog

About Me

My Photo
Ryan Radhi
Mengedepankan Rasional (aqli) dan Kemurnian Aqidah Islam (Al Quran dan Itrah Ahlul Bayt).
View my complete profile

About This Blog

Blog ini sebagian besar berisi beragam artikel yang dikumpulkan dari kejadian yang terlihat, terfahami, terbaca dan terjadi di sekitar Ryan Radhi HS.

Artikel dalam blog ini hanyalah prolog kajian yang tentunya memerlukan pengkajian lebih lanjut untuk memenuhi unsur kefahaman. Sesungguhnya Hanya kepada masing masing pribadilah kembalinya Upah atas Niat & Usahanya.

"Dan masing-masing orang memperoleh
derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."
{ QS. Al An'Am ayat 132 }


  © Ryan Radhi HS Blog Supported by :

Blogger template ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP