Jibril Al Amin As di Ghadir Khum :

" Rasul (umat) ini telah mengikat perjanjian abadi setiap Mukmin yang tiada yang akan berpaling kecuali tidak Percaya Tuhan "

December 26, 2008

Fitnahan Atas Bany Hasyim dan Syiahnya Jilid II

Penolakan Sayyidah Khodijah Al Kubro atas pinangan pembesar pembesar kafirin Quraish tak pelak menimbulkan rasa dendam pada Sayyidina Muhammad (Saww) dan Sayyidah Khodijah (As)

Ini pula yang melandasi Muawiyyah dari Klan Bany Ummayah selaku pemegang estafet dikemudian hari dengan Kekuasaannya mampu dan berani merubah alur sejarah bersama segala atributnya.

Berulang kali.. beribu kali.. kutip mengutip riwayat di wariskan ulama ulama bany Ummayah..
demi meninggikan dogma "Membuat Bangga Terbunuh di Badar"

Hasan Al Basri seorang Salaf terdahulu pernah berkata :
‘Kebohongan yang disampaikan berulang ulang bisa menjadi Benar (pembenaran)’

Maka dengannya terbentuklah sebuah alur kebohongan “benar” :

Abu Thalib bukan seorang Mukmin
Sayyidah Khodijah Al Kubro As seorang janda mendekati usia Tua
Nabi Muhammad Saww dapat disihir serta buta huruf

Kedengkian dan hasad yang di tradisikan serta di temurunkan kemudian yang juga sangat berperan dalam upaya menjauhkan Ummat Rasulullah Saww dari cahaya Suci RisalahNya..

Kaum Hipokrit ini amat sangat ingin mencari pendukung dan pembela serta pengikut sebagai bentuk ‘Upah’ atas terbunuhnya leluhur mereka Di badar. Berjuta pledoi mereka saji dan ajukan demi menegakkan fitnah bahwa Paman Nabi bukanlah seorang Mukmin.

Landasannya sederhana, Sepanjang Hidup beliau bada meninggalnya Ayahanda Mulia Sayyidina Abdullah ra, Abu Tholib lah yang tampil menjadi pembela dan pelindung Nabi dari Kafirin Quraish. Abu Tholib ra adalah sosok Pelindung yang berkepribadian agung, Beliau ra terbiasa dalam kedermawanan dan dikenal sebagai Orang yang lurus dalam tindakan serta prilaku. Tiadalah beliau menyembah berhala, karena Beliau benar benar telah memahami agama yang diwariskan Datuknya Ibrahim As. Bahkan pembukaan kembali Sumur Air zam zam adalah inisiatif beliau ra

Sikap pembelaan terhadap Rasulullah Saww dari Kaum Kafirin inilah yang kemudian menimbulkan ‘dogma’ bahwa Abu Tholib bukan seorang Mukmin. Hasad, dengki dan karena dendam leluhur.. Hingga lengkaplah sudah fitnahan mereka atas bany Hasyim. Suku termulia dari segala Suku.

Namun…mereka tidak menyadari dibalik 'rapinya' sajian Ada link putus disini..

Yaitu Kaum Muslimin mengenal betul apa itu Tahun Kesedihan
Sebuah Tahun dimana dalam pada itu telah wafat 2 orang pribadi Agung : Istri Tercintanya dan Paman terkasih Beliau; Abu Tholib

Pertanyaan yang akan memberikan jawaban sederhana, bila Abu Tholib bukan seorang mukmin mengapa Rasulullah Saww bersedih..?

Sedang kita saja selaku umat Beliau Saww tidak diperkenankan bersedih atas wafatnya orang yang mukmin.

Pertanyaan ini begitu sederhana namun tak pelak menimbulkan sikap kritis yang meruntuhkan Kebohongan ribuan tahun…


~Dan Bulir bulir pasir berbalut semilir badai lembut panas sahara membawa kisah semakin mundur teratur..

Saat itu aroma kurma memenuhi ruangan rupawan.. Nafsah dan Sayyidah Khodijah berbincang kecil tentang sosok yang telah menautkan dan meluluhkan hati terdalam Putri Cantik Mekkah..

Ahmad (saww)….

Nama yang begitu agung..
Hingga terserap satu padanan…

Pernikahan Antara Dua Manusia Agung pun dirayakan di Bumi dan Dilangit..
Semesta bertasbih atas pertemuan Dua Insan Mulia…

Dari Rasulullah Saww dan Sayyidah Khodijah Lahirlah 3 orang anak…

Anak yang pertama bernama Qosim {karena ini pula Rasul Saww dikenal sebagai Aba Qosim}
Anak yang kedua bernama Abdullah
Atas kehendak ALLAH AWJ keduanya meninggal saat masih balita..

Kemudian Anak yang paling bungsu serta paling cantik adalah Az Zahra Alaihassalam..

Inilah anak Pasangan Agung yang paling akhir..
Yang nantinya akan menjadi Pemimpin Seluruh wanita sepanjang zaman berputar..
Yang nantinya ALLAH AWJ Muliakan dan dijabarkan detil dalam Surah al Kautsar..

Dialah Sayyidah Fatimah Az zahro Al Mardhiyyah Alaihassalam..

Epik selanjutnya membuka gerbang alam nyata yang menceritakan bahwa..

Saat Masih dalam status Putri Mekah sebagai permata Cantik yang oleh masyarakat arab kala itu dijuluki At Thohiroh ( Suci ), bersamanya telah tinggal 3 orang anak yatim piatu, Putri Putri dari Kakak kandung Sayyidah Khodijah yang diangkat sebagai anak angkat. Ketiganya menjadi "anak" (angkat) Pasangan Sayyidina Muhammad Saww dan Sayyidah Khodijah as di kemudian hari - Dimasa ISLAM..

Pada Zaman arab terdahulu terlazimkan pula bahwa setiap anak dari Saudara lainnya bisa diangkat sebagai anak perwalian. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah dan Ummu kultsum yang diangkat menjadi anak walinya

Zainab adalah yang tertua dari ketiganya, ia menikah dengan Abul ash bin Rabi (seorang penyembah berhala sebelum masuk islam)

Ruqayah menikah dengan Utba
Ummu kultsum menikah dengan Utaiba

Keduanya (Utba dan Utaiba) adalah putra putra Abu Lahab dan Ummu Jamil dimana sudah pasti keduanya adalah juga penyembah berhala.

Saat ISLAM datang dan ditambah dengan Adanya bukti Al Quran tentang Murkanya ALLAH AWJ pada Abu Lahab (Surah Al Lahab), Rasa tidak suka dan amarah timbul di hati pasangan Abu Lahab dan Istrinya sehingga ia kemudian memerintahkan putra putranya Utba dan Utaiba agar menceraikan istri istrinya.

Setelah keduanya diceraikannya, Ruqayah dan Ummu Khultsum pun kembali ke rumah Sayyidah Khadijah

Selang tak lama setelahnya (dimasa islam), Rukayah dinikahi Ustman bin Affan dari bany Umayyah dan Setelah Rukayah wafat pada tahun 624 Ustman pun menikahi adiknya Ummu kultsum dengan ber urutan…

Dikemudian hari Muawiyyah sebagai penerus estafet kepemimpinan Bany Ummayah telah terpanggil tuk membela dan meletakkan Ustman sebagai saudara dalam klan Ummayah dengan mencatut gelar Dzawain Nur ‘ain (pemilik 2 cahaya) dengan asas dasar telah menikahi Anak (perwalian/angkat) Sayyidah Khodijah dan Rasulullah Saww.

Nabi ALLAH yang di sifati Ummu Aisyah sebagai Akhlak Al Quran dan Beliau SAWW adalah Al Quran berjalan [Bukhari] tidak akan mungkin tindakan Beliau Saww bertentangan dengan Al Quran.

Al Quran pun memberikan saksi atas sejarah yang di bangun kebohongan oleh bany ummayah ini.

Al Baqoroh ayat 221 : Jangan kau nikahkan anak anak perempuanmu dengan kaum Kafir
Al Mumtahah ayat 10 : Wanita wanita Mukminah haram bagi kafir

Ayat tentang perkawinan
At Taubah ayat 28 : Kenajisan orang Non Muslim tuk dinikahi

Bila Mereka (zainab & ummu kultsum) adalah Putri kandung Rasul maka adalah hal tidak mungkin Rasul melawan Ayat ALLAH SWT. Sedang dalam masa itu Islam masih dalam tekanan hebat, dan Ruqayyah serta Ummu Kultsum adalah status Istri Putra Putra Abu Lahab dan Ummu Jamil. Rasul Saww pastilah tidak akan menikahkan anaknya dengan kaum kafir, senyata dengan kita yang tidak mau menikahkan anak anak kita dengan kafirin.

Dalam hal lainnya, Sisi sejarah.
Kita tidak pernah saksikan dalam hadits ketiga wanita tersebut disebut sebut Rasulullah Saww.

Lihat saja Bukhari, Beliau SAWW mensifati satu satunya Putri Sayyidah Fatimah AS sebagai darah dagingku. Atau bahkan saat Rasul dilempari Kotoran Oleh Kafirin, kapan sejarah membuktikan bahwa Ketiganya membantu Nabi…?

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin timbul...
Lalu Siapa yang sebenarnya berstatus telah Janda..?
Kisah ini pun akan membuka gerbang politik kotor bany Ummayah dengan menutupi para pribadi yang tidak baik di sekiling Nabi Saww

Inilah Yang saya sebut Mutiara Terpendam, dan dengan melalui pengkajian menyeluruh terhadap Istri Istri Nabi Saww, serta dengan meninggikan asas bahwa Sayyidah Khodijah al Kubro As adalah Gadis Suci akan ditemui siapa sebenarnya status Gadis Sayyidah Khadijah di 'pindahkan' kepada Istri yang lain bada wafatnya Beliau.

"Tidak Ada Istri yang paling aku cintai kecuali Khadijah Putri Kuwailid"
(Al Musthofa Saww)


~ Seorang Putri Cantik Mekah lagi Suci bergelar At Thohirah ~

--

Dzawain Nur’ain adalah sebutan Rasulullah Saww saat mensifati Cucu Kesayangan Beliau; Al Hasan (as) dan Al Husein (as), Keduanya adalah Perhiasan Permata mata Nabi Saww.. Kedua Putra Suci tersebut adalah Cahaya Mata Beliau Saww

Semua gelar gelar Bany Hasyim dicatut dari tempatnya…
Digantungkan kepada pribadi yang tidak layak menyandangnya..

Al Shiddiq al Akbar…
Al Faruq…
Dzawa’in Nur’ain…

Sedang saat si penyandang gelar masih hidup tidak ada satupun sahabat Nabi segenerasinya yang menyebut gelar gelar tersebut kepada pribadi pribadi selain Imam Ali As…

Hatta Nabi Saww tidak pernah memanggil mereka yang tiada bergelar dengan Gelar Gelar yang demikian karena Gelar Tersebut telah ALLAH AWJ sematkan Kepada WashiNya saat Nabi Suci Mi'raj…

Disarikan dari
Muhammad Husein Haikal, Life of Muhammad
Story of Khadijah - Sayyid Razwy




0 comments:

Enter Your email to Get Update Articles

Delivered by FeedBurner

Random Articles

Powered by Blogger.

Recent Comments

" Pro-Log for the Light Of AT TSAQOLAIN "

  © Free Blogger Templates Cool by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP