Jibril Al Amin As di Ghadir Khum :

" Rasul (umat) ini telah mengikat perjanjian abadi setiap Mukmin yang tiada yang akan berpaling kecuali tidak Percaya Tuhan "

January 2, 2009

Menjawab artikel Pendakwah Wahaby

Betapa Premature pemahaman mereka...
Agama Suci ini lebih dari sekedar tekstual semata..
Tanpa pemahaman menyeluruh dan bertumpu pada parsial, niscaya mutiara keagungan ISLAM tiadalah akan tergali..

Wahaby Wrote (artikel asli) :

Syi'ah : Apa Keyakinan Orang Rafidhah Terhadap Najaf Dan Karbala ? Dan Apa Keutamaan Menziarahinya

Orang syi'ah sungguh telah menjadikan tempat-tempat perkuburan imam-imam mereka baik imam dakwaan mereka belaka atau hakiki, sebagai tempat yang haram dan suci (seperti haram Makkah) : maka kota Kufah adalah haram, Karbala haram, Qum haram. Dan mereka meriwayatkan dari As Shidiq : Sesungguhnya Allah memiliki haram yaitu kota Mekkah, dan Rasulullah memilik haram yaitu kota Madinah, dan Amirul mukminin memiliki haram yaitu kota Kufah dan kita memiliki haram yaitu Qum.

Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka'bah. Hal ini tercantum dalam kitab Al Bihaar dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Ka'bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam. [1]

Dan tercantum juga di dalam kitab Al Mazaar karangan Muhammad An Nu'man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab Ucapan saat berdiri di atas kuburan yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :

Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu, dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan dosa-dosaku.

Dan tercantum dalam kitab Al Mazaar tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja'far Al Shodiiq ia berkata : Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli wasiat serta orang-orang yang sholeh [2].

Analisa Wahaby :
Lihatlah wahai pembaca yang budiman, bagaimana mereka itu jatuh dalam kesyirikan, karena mereka meminta kepada selain Allah dalam menyelesaikan dan memenuhi hajat kebutuhan, meminta dan memohon pengampunan dosa-dosa kepada manusia, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan Allah telah berfirman :

Artinya : Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. [Ali Imran : 135]

Kita berlindung dengan Allah dari perbuatan syirik.
[1] Kitab Al Bihaar : (10/107)
[2] Kitab Al Mazaar, karangan Muhammad An Nu'man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, hal : 99
**
Jawaban Ar Radhi:

Ketika banyak orang berupaya mencari jutaan cara menjatuhkan citra Syiah, mereka justru akan lebih dalam dan terpapar dalam menampilkan ketidak fahamannya sendiri. Dengan kedangkalan hujjah dan analisa mereka mencoba merecoveri hadits hadits dalam kitab Syiah yang pastinya tidak akan mudah dibaca dengan cukup tekstual saja (jumud-ortodok).

Sesungguhnya yang Fulan wahaby lakukan adalah mengcopy paste lalu dianalisa sendiri, bukan melakukan syarah.

Basic berbeda.

Wahaby mengharamkan Tawassul.
Sementara Sebagian Ahlusunnah memperbolehkannya
Syiah sendiri mengutamakan Syariat tawassul ini.

Jawabannya artikel diatas sederhana, tidak dibutuhkan hujjah mendalam (menjelaskan pada pribadi tidak faham, tidak dibutuhkan hujjah mendalam). Bahwa, tidak bisa ditampik Semua auliyya ALLAH pastilah memiliki keutamaan dan kemuliaan saat ia masih hidup ataupun setelah wafatnya, Landasannya :

QS Ali Imran 169.
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki."

Maka bertabaruk dengan Auliyya ALLAH baik saat ia masih hidup ataupun setelah wafatnya sama memiliki manfaat.

Quote :

Wahaby wrote:

Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka'bah. Hal ini tercantum dalam kitab Al Bihaar dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan ke Ka'bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke dalam Jahanam. [1]

[1] Kitab Al Bihaar : (10/107)

Ar Radhi :

Sang penulis hendak membawa dan mencari legitimasi khalayak dalam mencari dukungan atas upaya mendeskreditkan Syiah.

Hadits diatas bermakna :
Karena peristiwa karbala sebagai bentuk revolusi akidah maka pedaran ISLAM yang haq masih dapat dinikmati oleh para pemeluknya. Bila tanpa Revolusi Akidah yang terjadi karena karbala, niscaya manusia telah menganut ISLAM Yazid (laknatullah). Dengan terjadinya revolusi karbala atas akidah, masih saja kita saksikan ada manusia manusia yang berakidah yazid bagaimana bila tidak ada revolusi akidah ?

Maka dengan melalui Jalan revolusi akidah dan memperbaharui keimanannya hanya pada syariatNya lah ALLAH AWJ tidak akan menempatkan kita di tempat yang paling buruk saat kita kembali padaNya.

Al Baqoroh 208 :
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

ALLAH AWJ menghendaki kita mencari ISLAM yang Kaffah, dan panggilan atas orang beriman tuk “hijrah” kedalam ISLAM kaffah.

Masuk bermakna perpindahan dari situasi satu (sebelumnya) ke situasi yang lebih baik (kemudian)

Wahaby wrote :

Dan tercantum juga di dalam kitab Al Mazaar karangan Muhammad An Nu'man yang diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab Ucapan saat berdiri di atas kuburan yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :

Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu, dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan dosa-dosaku.

Dan tercantum dalam kitab Al Mazaar tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja'far Al Shodiiq ia berkata : Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli wasiat serta orang-orang yang sholeh [2].

Ar Radhi :

Hadits dalam kitab Syaikh Al Mufid ini lebih bermakna Berdoa kepada ALLAH AWJ dengan cara bertawassul (melalui perantara) kemuliaan Imam Husein As.

Keywordnya adalah : dengan lantaranmu / dengan perantaramu / dengan kemuliaanmu dst..

Jelaslah tidak akan berbuka gerbang pemahaman kaum jumud sementara disisi mereka tertutup (di bid’ahkan) bertawassul.

Baik kepada Orang sholeh yang masih hidup ataupun telah wafat dan dengan cara apapun.
Kaum jumud lebih bisa memaknai meminta langsung kepada orang wafat daripada meminta kepada ALLAH AWJ melalui Perantaraan.

Dalil acuan :

Al Quran Surah Al Maidah ayat 35 :

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan"

Ayat ini adalah ayat paling jelas sebagai landasan bertawassul yaitu melalui jalan (mana saja) sebagai perantaraan dalam mencari kebaikan/keberuntungan.

Sementara dari sisi Hadits ada banyak sekali yang menjelaskan keutamaan syariat tawassul ini.

Athiyyah Ufi meriwayatkan dari Abu said al khudri dari Lisan Suci Rasul Saww :

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat dan ia membaca doa berikut ini, maka ia akan mendapatkan rahmat Allah dan seribu malaikat memintakan ampun baginya : Ya ALLAH, aku memohon kepadaMu dengan perantaraan hak para pemohon dan dengan kehormatan langkah langkah yang kuangkat guna menuju kepadaMu. Aku tidaklah keluar untuk durhaka dan bersenang senang dan tidak pula untuk riya atau sum’ah, melainkan aku keluar untuk menjauhi murkaMu dan mendapatkan keridhoanMu. Aku memohon agar Engaku menjauhkan aku dari api neraka dan mengampuni dosa dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang berhak mengampuni dosa kecuali Engkau..”

{Sunan Ibnu Majah Jilid 1, hal 261-262, Musnad Ahmad Jilid 3 hadis no 21}

Imammul Husein As Syahid As bermunajat kepada ALLAH dalam doa Arafah yang terkenal :

“ Ya ALLAH, aku menghadap kepadaMu saat ini, saat yang telah Engkau Agungkan, dengan perantaraan Muhammad NabiMu dan UtusanMu serta mahluk terbaikMu..”

{Mafatih Jinan-Syaikh abbas Al Qummi}

Jelas sekali bahwa Tawassul tidak akan hilang dari ISLAM otentik dan akan terus lestari selama ISLAM masih bersemi.

Oleh karenanya teology jumud tidak akan dapat menyentuh esensi keindahan berdoa ini dikarenakan mereka telah ‘hilang sentuhan’ berganti kekakuan Ibnu Taymiyah.

Bagi kaum wahaby Ushwah Nabi telah punah berganti Ushwah Ibnu Taymiyah … Naudzubillah…

Segala Upaya mereka menjauhkan Umat dari Cahaya Suci akan kembali pada kerugian disisi mereka, karena bukan pencerahan yang akan mereka dapat namun adalah buah kebodohan semakin tampak disisi mereka..

Hanya Kepada ALLAH AWJ segala Pujian terbaik dan terindah, karena DisisiNya segala Keutamaan. Hanya KepadaNya Kita meminta dan berharap pertolongan… dan Hanya KepadaNya semua kembali...


0 comments:

Enter Your email to Get Update Articles

Delivered by FeedBurner

Random Articles

Powered by Blogger.

Recent Comments

" Pro-Log for the Light Of AT TSAQOLAIN "

  © Free Blogger Templates Cool by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP