Jibril Al Amin As di Ghadir Khum :

" Rasul (umat) ini telah mengikat perjanjian abadi setiap Mukmin yang tiada yang akan berpaling kecuali tidak Percaya Tuhan "


January 31, 2009

Nasab Rasulillah Saww Bersih.. !!


Isu ini terangkat kala sebagian umat islam mengaku pengikut Rasulillah Saww justru memusyriknya ayahanda Rasulullah Saww. (Innalillah..)

Dalam menjawabnya saya sampaikan 2 jawaban sekaligus bahwa :

Nama ayahanda Rasulullah Saww adalah Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthalib r.a yang artinya Hamba ALLAH.

Definisinya jelas bahwa ayahanda Rasul Saww sangat mengenal ALLAH AWJ
karena nama ini yang membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah Illah SWT.

Contoh Nama nama Jahiliyah (mirip mirip Tuhan mereka Latta dan Udza):
Uta, Abul Udza, dll

Jadi jelaslah bahwa Ayahanda Mulia Ar Rasul Saww bukan seperti claim mereka..!

Ayah Nabi Ibrahim As tidak Kafir


Banyak orang yang memaknai bahwa Azar adalah ayahnya Nabi Ibrahim demi memuluskan upaya mereka menampilkan 'cacatnya' Nasab Nabi Saww.

Namun sekali Lagi Hujjah ALLAH AWJ membungkam sekaligus membongkar kebohongan bertingkat kaum hipokrit pendengki Ar Rasul Saww..

Dalam Nasab Umum inilah Nasab Ayahanda Rasul Saww :

Sayyidina Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hâsyim (AMR) bin 'Abd al-Manâf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu ' Ayy bin Isma 'ell (Ismail) bin ibrahim bin Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh bin Lamik bin Metusyalih bin Idris bin Yarid bin Mihla'iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S


Rantai Nasab diatas ada Nama Azar {tarih}

sesungguhnya keduanya adalah orang yang berbeda. Azaar adalah paman Nabi Ibrahim yang bekerja tuk Namrud dalam membuat Patung. Sedang Tarikh adalah Ayahanda Nabi Ibrahim As.

Lamanya sejarah serta berlapisnya pengkaburan membuat orang sulit mencari jawaban siapa Ayah Nabi Ibrahim As sebenarnya, Padahal Jawabannya ada di Depan mata

Kuncinya ada pada QS al An'am ayat 74 dalam kata Ab' (ayah dalam makna luas)

Penggunaannya :

Abu jabir (ayah Jabir)
Abu Abdillah (ayah Hamba Allah)
atau :

Abaaika (Kakek)

metode ini sederhana, namun banyak yang tidak faham, artinya penggunakaan kata ab' pada orang tertentu tidak menyatakan bahwa orang tersebut adalah Ayah dalam nasab.

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah Nabi Ibrahim adalah ayat yang menyebutkan Azar sebagai " ab " Ibrahim. Misalnya :

" Ingatlah ( ketika ), Ibrahim berkata kepada " ab "nya Azar, " Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan yang nyata ".( al An'am 74 ).

Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh Allah ( al Taubah 114). Dalam menarik kesimpulan dari ayat di atas dan sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim adalah seorang kafir sungguh sangat terlalu tergesa-gesa, karena kata " abun " dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah kandung saja.

Kata ab' bisa juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek.

contoh lain

Misalnya al Qur'an menyebutkan Nabi Ismail sebagai " ab " Nabi Ya'kub as., padahal beliau adalah paman NabiYa'kub as.

"Adakah kalian menyaksikan ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, " Apa yang kalian sembah sepeninggalku ? ". Mereka menjawab, " Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri ".( al Baqarah 133 )

Dalam ayat ini dengan jelas kata "aabaaika " bentuk jama' dari " ab " berarti kakek ( Ibrahim dan Ishak ) dan paman ( Ismail ).

Dan juga kata " abuya " atau " buya " derivasi dari " ab " sering dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum Buya Hamka, misalnya.

Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata " ab " tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata " ab " pada surat al An'am 74 dan al Taubah 114 ?

Dengan melihat ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas bahwa seorang yang bernama " Azar ", penyembah dan pembuat patung, bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya atau orang yang sangat dekat dengannya dan Ia adalah pembuat Patung tuk Raja Namrud

Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang yang dekat dengannya, "Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah " ( Maryam 44 ).

Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim. Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. " Berkata Ibrahim, " Salamun 'alaika, aku akan memintakan ampun kepada Tuhanku untukmu " ( Maryam 47 ).

Kemudian al Qur'an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim As menepati janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa,

" Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii ), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah dengan hati yang selamat ".(al Syua'ra 83-89 ).

Allamah Thaba'thabai menjelaskan bahwa kata " kaana " dalam ayat ke 86 menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al Mizan 7/163).

Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar menepati janjinya saja kepada Azar, Allah AWJ menyatakan bahwa tidak layak bagi seorang Nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau berlepas tangan ( tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 )

Walid = Ayah Nasab (kandung)

  • Bedakan dengan kata walid (sebutan ayah dalam makna nasab/ kandung) seperti doa yang diajarkan Khalil ALLAH Ibrahim As. dan Doa ini muktabar dikalangan kita. Jelaslah bahwa Walid menunjukkan bahwa ia menuju pada Orang tua asli (kandung)

Ketika Nabi Ibrahim datang ke tempat suci Mekkah dan besama keturunan membangun kembali ka'bah, beliau berdoa,

"Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan kaum mukminin di hari tegaknya hisab"( Ibrahim 41 ).

Kata " walid " hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan.

Dan yang dimaksud dengan " walid " disini tidak mungkin Azar, karena Nabi Ibrahim telah ber-tabarri (berlepas diri) dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah musuh Allah (al taubah 114)

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.

  • Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, " Dan perpindahanmu ( taqallub) di antara orang-orang yang sujud ".( al Syua'ra 219 ). Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli sujud ke sulbi ahli sujud.
Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada Allah. (lihat tafsir al Shofi tulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan Majma' al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).

Nabi Ibrahim as. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as. adalah seorang yang ahli sujud kepada Allah swt.

Tentu selain alasan-alasan di atas, terdapat bukti-bukti lain dari hadis Nabi yang menunjukkan bahwa ayah kandung Nabi Ibrahim as. bukan orang kafir.

Hingga timbul Pertanyaan Besar Siapa Ayah kandung Nabi Ibrahim As ?

As Sayyid Nikmatullah al Jazairi menjawabnya dalam kitab an Nur al Mubin fi Qashash al An biya wal Mursalin hal 270 mengutip az Zujjaj bahwa Ayahanda Nabi Ibrahim As bernama Tarikh


Salam atas Khalil ALLAH yang suci..
Salam atas Nabi ALLAH Ibrahim alaihissalam..


Source :
Dinukil dari Buletin al Jawad edisi 1421 dan Kitab Adam hingga Isa (Sayyid Jazairi)



Read more...

Jawaban atas kaum Hasadi

Genocida Gaza menyisakan puing kehancuran bangunan, masjid, tubuh dan juga hati..
Namun itu semua belum lah cukup tuk memberikan jawaban bagi orang orang yang hanya euforia dan shock akan perang di tanah palestina.

Ketika mereka diajukan pertanyaan "mana fatwa kecaman riyadh atas zionist Israel"

Mereka tidak akan mampu menjawab seraya balik mempertanyakan mengapa Iran tidak membantu gaza ?

Bila dalam definisi bantuan adalah mengirimkan rudal ke israel, mereka sesungguhnya telah terjebak dalam doktrin hitam kaum hipokrit pendukung zionist..

Bagaimana bisa memaknai pertanyaan ini disaat Gaza sesungguhnya butuh bantuan kita moril dan materil.

Dan sebenarnya simple jawaban ini..

Gaza ada di Tanah Palestina, Israel ada di tanah Palestina, Keduanya ada di Negara Palestina
bila sebuah negara mengirimkan Rudal ke negara lain, maka terciptalah perang dunia ke 3.

Hingga tidaklah mungkin RII selaku negara yang sangat menerapkan pemerintahan ISLAM mau berlaku opensif dan destruktif dalam langkahnya.

Dan hal yang tidak mungkin juga Iran membuka front baru dengan kiriman rudal.
toh pada kenyataannya IRAN tidak diserang, buat apa menyerang duluan.


Scoup lebih luas, Di wilayah Israel (saya tidak mengakui ia negara) ada Al Aqsa, ada pengungsi palestina yang sebagian besar ibu ibu dan orang tua, dengan mengirimkan Rudal dari suatu negara ke wilayah negara lain (andai terjadi) artinya mereka berharap IRAN menghancurkan Al Aqso dan membantai Pengungsi Palestina disana..

Hal yang mustahal nan mustahil..!!

ISLAM adalah agama Defensif, dan tidak akan pernah pribadi ISLAM yang asli akan memulai perang. Karena ISLAM bukan agama perang.

Unlike mereka yang mengatakan ISLAM Perang hingga timbul jihad 'palsu'

Sudah selayaknya mereka ajukan kritik pedas mereka pada Fatah dan tuan besar pendukung nya 'saudi' agar apapun berkaitan Negara Palestina, jiwa mereka terpanggil.

Mengenai Iran dan Hizbullah yang dikatakan tidak mendukung Hamas, Issue murahan ini hanya laris di level bawah, sedang dalam forum dunia baik 'almarhum jabatan presiden" bush ataupun para petinggi Tel Aviv , telah mahfum bahwa Iran dan Hizbullah berada di balik Hamas dan bahu membahu bersama muqowamah gaza menghancurkan zionist.

Perdana Menteri pilihan rakyat Palestina, Ismail Haniyah, mengucapkan terima kasih atas sikap Iran soal perang 22 hari. Televisi Al-Quds melaporkan, Ismail Haniyah mengatakan, "Bangsa dan para pemimpin Iran adalah sahabat kami. Sikap mereka dalam mendukung hak bangsa Palestina dan moqawamah sangatlah transparan tanpa tedeng aling-aling." Dikatakannya pula, "Kami menghendaki pencabutan aksi blokade dan pembukaan pintu-pintu gerbang Gaza."


Kutipan berita ini yang dinukil dari irib dan juga kutipan berita Ucapan Ahmadinejad via telephone kepada Ismail Haniyah :

"Hari ini dimulainya kemenangan itu, dan semuanya akan dituntaskan dengan kemenangan,"


Yang dimuat dalam berbagai media seharusnya dapat memenuhi dahaga mereka akan pertanyaan mereka sendiri. belum lagi bila digandengkan dengan Ucapan Selamat dari Rahbar atapun dari Sekjen Hizbullah.

Lalu dimana ucapan selamat saudi dan fatah?
Atau bahkan mesir sekalipun?
Yang masih saja kekeh mempertahankan kelaparan di gaza dan melanggengkan tragedi kemanusiaan disana..

tampaknya tidak ada bukan..

Satu satunya riya yang di selonjorkan petinggi arab adalah batuan kemanusiaan sebesar 1 milliar dollar yang dalam pencairannya mengharuskan hamas mengakui eksistensi israel..

It only happended in your dreams ..!!

Berita Terakhir yang mencuat adalah rasa muak yang membuncah dari rakyat palestina akan pemerintahan Abbas, mereka menuntut Abbas turun karena dianggap gagal dalam melindungi jengkal tanah palestina.

Dan disaat yang sama Abbas merasa diujung tanduk, saat ketakutan lengser melingkupi ia malah berujar :

"HAMAS berhasil dalam usaha kudeta mereka di Gaza karena kami ingin menghindari konfrontasi militer, namun apa yang terjadi di sana tidak akan berulang di Tepi Barat. Tidak akan pernah,"

Ia mengutarakan hal itu dihadapan press demi ketakutannya pada ketangguhan Hamas di depan mata.

One solution, one nation.
Hamas dan Fatah harus bersatu dalam muqowamah palestina, dan satu satunya jalan adalah dengan timbulnya kesadaran di hati pemimpin mereka khususon Fatah, dan dengan jiwa besar petinggi fatah berani mengorbankan kepentingannya diatas kepentingan bangsa Palestina.

Disaat serangan Israel masih terus terjadi di selatan dan perbatasan Gaza.

Semoga saja...




Read more...

January 27, 2009

Syiah Pengikut Sahabat Hakiki


Imam Ali As adalah Sahabat Special yang sangat mengenal NabiNya Saww dan dari Imam Ali As pula Islam Berpedar Hingga penjuru Dunia, Karena Beliau As adalah Pintu Menuju Rasulullah Saww dan Bohong bila bisa mengenal Rasul secara Mutlak tanpa melalui Imam Ali As.


~ Kenal belum tentu Mengenali, Namun Mengenali telah pasti kenal ~

---

Imam-Imam ahlu sunnah terbagi dua, yaitu: Imam-imam dalam masalah fiqh dan Imam-imam masalah aqidah. Dalam masalah fiqh mereka mengikuti empat orang imam terkenal pemilik mazhab yang empat yaitu, Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Imam-imam yang empat itu bukanlah merupakan generasi sahabat Rasulullah Saww maupun tabi’in, sehingga Rasul Saww tidak mengenal mereka , dan merekapun tidak mengenal Rasul Saww.

Dari keempat imam tersebut, Abu Hanifah merupakan imam yang paling tua dimana usianya terpaut lebih dari dua ratus tahun dengan Rasul Saww. Adapun dalam masalah aqidah, ahlu sunnah mengikuti Al Asy’ari yang lahir tahun 270 H. Imam-imam inilah yang merupakan imam yang di ikuti dikalangan ahlu Sunnah dalam masalah aqidah dan Syari’at.

Dari imam-imam ini adakah yang merupakan imam Ahlu Bait atau sahabat Nabi? Tentu tidak . Lantas mengapa mereka yang mengaku memegang teguh sunnah Nabi mengakhirkan atau mengunci mazhab yang empat ini hingga masa tersebut? Dimana Ahlu Sunnah sebelum munculnya para imam mazhab-mazhab itu ? dan bagaimana mereka beribadah, serta kepada siapa mereka berhukum sebelum itu? Dan bagaimana mereka bisa percaya kepada orang-orang yang tidak semasa dengan Nabi Saww dan Nabi pun tidak mengenal mereka, sementara ketika mereka muncul , fitnah dan peperangan sesama sahabat Nabi Saww dan diantara pengikut mazhab mereka terlah terjadi dimana-mana?

Bila mau berfikir secara sehat bagaimana khalayak dapat menerima para imam tersebut secara aklamasi ? sedang saat lahirnya terjadi fitnah dan kekacauan merajalela dimana mana? Jawabannya, Karena dukungan politik dari penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiah keempat mazhab tersebut dapat berkembang ditengah masyarakat
{Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq}

Bagaimana sesorang yang mengaku Ahlu Sunnah Nabi meninggalkan Sayyidina Ali Kw, gerbang ilmu pengetahuan (lihat di shahih Muslim, bagian Keutamaan-keutamaan Sayyidina Ali Kw, jilid 4 hal 1871).

Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein penghulu pemuda di surga, serta Imam suci dari keluarga Nabi Saww yang telah mewarisi ilmu yang sebenarnya! Apakah pantas mereka mengaku sebagai pembela Sunah Nabi sementara pada saat yang sama mereka malah meninggalkan wasiat Nabi untuk mengikuti para Imam Mahzab?

Kepentingan politik telah merubah segalnya, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.

Kaum syi’ah yang memegang teguh wasiat Nabi dikatakan pembangkang dan ahli bid’ah, sementara mereka yang tidak memegang teguh wasiat Nabi malah disebut pengikut sunnah Nabi.

Dan saya yakin bahwa otak dari semua ini adalah orang Quraisy, karena mereka terkenal dengan pribadi-pribadi yang fanatik dan licik. Diantara para pembesar - pembesar ini adalah , Abu Sufyan, Mu’awiyyah bin Abu Sufyan, Marwan bin Hakam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abu Ubaidillah bin Jarrah. Mereka bermusyawarah dan bermufakat untuk menyebarkan berita-berita palsu ditengah-tengah masyarakat, tanpa diketahui oleh orang lain rahasia yang sebenarnya.

Diantara politik yang mereka lakukan adalah, menjadikan Nabi Saww tidak ma’sum dan tidak luput dari kesalahan seperti manusia biasa lainnya, juga tuduhan-tuduhan dan caci maki mereka teradap Sayyidina Ali Kw yang mereka hina dengan panggilan Abu Turab.

Demikian pula cacian dan kutukan terhadap Ammar bin Yassir yang mereka sebut sebagai Abdullah bin Saba atau Ibnu Sauda, karna Ammar menyerukan pengangkatan Sayyidina Ali Kw sebagai khalifah
(silahkan lihat buku Musthafa Kamil Al Syaibani yang memaparkan sejumlah bukti dusta rekaya yang menggelikan bahwa Abdullah bin Saba tidak lain adalah Ammar bin Yassir.)

Demikian pula rekayasa mereka yang menyebut diri mereka sebagai Ahlu Sunnah, supaya orang Islam menyangka bahwa merekalah yang memegang teguh Sunnah Nabi. Pada hakekatnya “sunnah “ yang mereka maksudkan tidak lain adalah bid’ah yang mereka ciptakan untuk mengutuk Sayyidina Ali dan keluarga Nabi SAW di seluruh polosok negri.

Bid’ah tersebut berlangsung lebih dari 80 tahun, hingga saat itu jika seorang khatif selesai dari khutbahnya dipastikan sebelum turun dari mimbabar akan berteriak “ saya meninggalkan sunnah, saya meninggalkan sunnah! Dan tatkala Umar bin Abdul Aziz berusaha menggantikan sunnah itu dengan firman Allah ,”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menegakkan keadilan dan kebaikan”(An Nahl;90) dan mereka (para pecinta Ummayah) bersekongkol tuk membunuhnya dengan racun, Umar bin Abdul Aziz pun meninggal pada usia 32 tahun disaat ia baru menjabat khalifah kurang lebih dua tahun, atas usahanya untuk menghapus sunnah nenek moyang mereka sebelumnya dari Bani Umayyah dan setelah jatuhnya Bani Umayyah.

Upaya penindasan dan penghinaan terhadap Sayyidina Ali Kw dan pengikutnya terus dilakukan oleh penguasa-penguasa baru Bani Abbasiah yang mencapai puncaknya pada masa khalifah Ja’far Al Muthasim Al Muttawakkil, ia berusaha membongkar habis kuburan cucu Nabi Saww, yaitu Sayyidina Husein di Karbala dan melarang para peziarah untuk mengunjunginya. (Dikarenakan sedemikian beratnya hinaan, cacian dan siksaan yang harus ditanggung oleh para pengikut Sayyidina Ali Kw saat itu, sampai-sampai mereka lebih baik mengaku Yahudi dari pada mengaku Syi’ah.)

Khalifah Al Mutawakkil juga dikenal sebagai satu-satunya penguasa yang pernah membunuh semua bayi yang namanya Ali, karena ia membenci mendengar nama itu.

Diceritakan bahwa Ali bin Jahm adalah seorang penyair tenar pada saat itu , tatkala berjumpa dengan Mutawakkil , ia menyatakan ; “Hai Amirul Mu’minin keluargaku telah mendurhakai aku dan Amirul Mu’minin”

“Kenapa?” tanya Al Mutawakkil

“Karena mereka menamakan diriku Ali, padahal aku paling benci nama itu”

Al Mutawakkil lantas terbahak-bahak dan memberikan sejumlah hadiah. Dan Khalifah Al Mutawakkil inilah yang oleh para ahli hadist Sunni disebut- sebagai pembangkit Sunnah.

Untuk memperjelas riwayat di atas, Imam Al Khawarizmi menulis dalam bukunya : “Harun dan Ja’far” Al Mutawakkil adalah pengikut setan, setiap orang yang mencaci maki Sayyidina Ali Kw pasti mendapat kiriman hadiah (Kitab Al Khawarizmi hal ,135)

Dalam buku lain Ibnu Hajar meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal : bahwa Nasir bin Ali bin Sahban berkata di hadapan Al Mutawakkil ;

“Dulu Rasullullah SAW pernah mengangkat tangan Sayyidina Hasan dan Sasyyidina Husain sambil berkata”Siapa yang menyakitiku dan kedua anakku ini, maka ia bersamaku pada hari kiamat di surga”. Mendengar hadist ini Al Mutawakkil mencambuknya 100 kali . Dan saat ia menemui ajalnya , Ja’far bin Abdul Wahid membisikan pada Al Mutawakkil ,”Ya Amirul Mu’minin, ia merupakan pengikut Ahlu Sunnah!(Ibnu Hajar, Tahzib Al Tahzib)

Dari sini jelaslah bahwa kutukan dan cacian terhadap Sayyidina Ali Kw dipandang sebagai dukungan terhadap simbul Ahlu Sunnah . Dan Mereka Menuduh Syi’ah yang mendukung kepemimpinan Sayyidina Ali Kw sebagai Ahli Bid’ah karena mereka tidak mengikuti pendapat Sahabat dan Khulafa Al Rasyidin yang tidak mengakui kepemimpinan Sayyidina Ali Kw.

Saya rasa bukti-bukti sejarah yang saya ungkap sudah lebih dari cukup dan anda para pembaca yang saya hormati, saya persilahkan untuk meneliti lebih jauh kebenaran yang saya ungkap tersebut”Sesungguhnya orng-orang yang bersusaha keras unrtuk menemukan kebenaran, niscaya kami tunjuki mereka jalan yang lurus, dan sesungguhnya Allah bersana orang-orang yang berbuat kebajikan”(Al Ankabuut: 69)

Ali selalu bersama Al Qur’an dan Al Qur’an selalu bersamanya, keduanya tidak akan pernah berpisah sampai bertemu denganku kelak ditelaga surga
(Al-Mustadrak Al Hakim, juz 3.hal.124)


##

Disadur dari Tulisan Sayyid alwi yahya - MENGENAL IMAM-IMAM
AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH, Reposted on ISLAT

Alih bahasa dan editing dilakukan tanpa merubah isi


Read more...

January 26, 2009

Syiah Awwalun ISLAM


Sedemikian Banyak Orang yang mengamini bahwa syiah lahir atas kecintaan pada orang yahudi ibn Saba. Namun sedemikian banyak orang yang berpendapat demikian, kelompok tersebut cenderung Salah besar hatta mereka berlindung dari dalil dalil yang "seakan" kuat.

Ya..!!

Mereka sangatlah amat salah besar dan sangatlah Teguh memegang KESALAHAN nya

Bukti Bukti Nash tegak Agama jelas sekali merujuk pada sebuah faktual bahwa Syiah lahir jauh sebelum semua sekte lahir.

Bahkan sebelum ada mahzab sekalipun.

Para Pengkaji Sejarah telah mendawamkan serta memuktabarkan dari kalangan mereka bahwa terdahulu telah ada istilah Al Arkaan Al Arbaah, yaitu 4 orang tokoh central yang memperkenalkan Syiah Ali As.

Mereka Adalah :

  • Salman al Farisi, Seorang sahabat mulia yang maqomnya mendekati maqom Ahlulbayt Suci As dan disanjung Rasul Saww sebagai "Salman adalah termasuk Ahlulbayt", Salman Juga yang di Kabarkan Ar Rasul Saww bahwa di Negerinya Kelak (Tanah Persia - sekarang Iran) "ISLAM akan mengalami Kejayaan" - Dan Subhanallah, di Abad ini siapa yang tidak kenal RII..
  • Abu Dzar Al Ghiffari, Seorang Sahabat mulia pengikut Setia Imam Ali As dan Ahlul bayt Nabi Suci yang teguh memegang Baiat Ghadir kum serta Rela mati demi wasiat ar Rasul Saww. Abu Dzar juga pernah dikabarkan Rasul Saww akan meninggal sendirian dalam pengasingan khalifah ketiga. Ia juga dikenal sebagai tokoh vocal yang tidak pernah rela melihat kezholiman di depan mata. Dan Sahabat Abu Dzar pun dikenal luas bagi para pecinta Irfan serta dekat sebagai "Centralnya" Kaum Musthadafin.
  • Miqdad bin Aswad, Beliau adalah salah seorang sahabat senior Nabi Saww yang teguh membela ahlulbayt as sejak hari pertama Rasul Wafat. Miqdad pun berdiri di barisan bany hasyim yang tinggal di rumah suci Nabi saww saat anshar dan Muhajirin lainnya merumuskan khalifahnya sendiri.
  • Ammr Bin Yasr, Namanya mencuat setelah ayah dan ibu nya syahid karena enggan menanggalkan ke islamannya dimasa awalun ISLAM di tangan para kafirin Quraish. Ammar Selamat setelah sebelumnya Taqiyah dalam posisi terancam demi menyelamatkan jiwanya. Ammar Bin Yars di kemudian hari bersama jajaran sahabat senior nabi yang masih hidup. dalam Usia tuanya pernah di tuding sebagai "abdullah bin saba" *( oleh Muawiyah bin sufyan karena mereka menolak melepaskan ke syiahan mereka atas Washi Nabi As.
*( sekaitan Ucapan dan sebutan Muawiyah atas para sahabat nabi ini, akan dipaparkan dalam postingan terkait guna membuktikan keroposnya - lebih tepatnya - tidak adanya nama dimaksud (ibn saba) kecuali hanya bualan Muawiyah semata.

Dari ke empat tohoh awal pengikut setia Imam Ali As inilah terdapat beberapa Nama sahabat lainnya yang teguh bersama Ahlul Bayt Suci As hingga jumlah mereka sekitar beberapa puluh sahabat yang setia pada At Tsaqolain.

Diantaranya :

Bara Bin Adzib
Ubay bin Kaab
dll

serta beberapa Nama sahabat setia lainnya yang teguh menolak membaiat Para manusia manusia Mualaf Hipokrit yang tega menghianati Wasiat Nabi Saww di Ghadirkum dan membelot sejak hari pertama Rasul Saww wafat..

Inilah Para saksi Hidup yang nantinya di sanjung ALLAH AWJ di Yaumul Akhir dan di sebut Illahi Karim sebagai Hawari (Sahabat Setia Nabi Saww).

Syaikh al Kisyi dalam Rijal al Kisyi meredaksikan bahwa ALLAH AWJ di Mahkamahnya kelak memanggil Para Hawari (Sahabat Setia Nabi Saww).

ALLAH AWJ berfirman :

" Mana Hawari Muhammad ibn Abdullah - Saww- yang setia pada janjinya (di Ghadir Kum)..? "

Maka mendengar seruan ALLAH AWJ ini berdirilah para Hawari Nabi Saww yang Wajahnya bercahaya berseri seri karena disanjung Illahi..

~ Allohumma sholli ala Muhammaddin wa Aali Muhammad..... ~

Dalil Tegak Bahwa Syiah awwalun di sampaikan lisan Suci Nabi saww :

Al Quran Al Bayyinah ayat 7


إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة


Al-Thabari, salah seorang tokoh terkemuka Ahlussunah, menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Ali, ketika Nabi Saww membaca ayat tersebut beliau bersabda menjelaskan:

أَنْتَ يَا علِيُّ وَ شِِيْعَتُكَ

Mereka adalah kamu, hai Ali, dan Syi 'ahmu (pengikut pengikutmu).

Ibnu Hajar Al-Haitami menggolongkan ayat ini sebagai salah satu ayat yang turun berkenaan dengan keutamaan Ahlulbait as., ia berkata, "(Ayat ke sebelas)

Firman Allah SWT:

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS 98:7)

Al-Hafidz Jamaluddin Al-Zarandi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.,ia berkata,'Sesungguhnya ketika ayat ini turun, Nabi saw. bersabda kepada Ali:


هُو أَنْتَ وَ شِيْعَتُكَ. تَاْتِيْ أنتَ وَ شيعتُكَ يومَ القيامة راضين مرضِيِّيْنَ، و يأتي عَدُوُّكَ غِضابًا مُقْمَحِيْنَ. قال: و مَنْ عدُوِّيْ؟ قال: مَنْ تَبَرَّأَ منْكَ و لَعَنَكَ

Dia adalah kamu dan Syi 'ahmu. Kamu dan Syi'ahmu datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diriidhai, sedang musuhmu dalam keadaan murka dan tertelangah. Ia berkata,"Siapa musuhku?" Beliau menjawab,"Orang yang berlepas tangan darimu dan melaknatmu

Riwayat ini juga disebutkan oleh beberapa ulama dalam buku-buku mereka seperti: Al-Zarandi Al-Hanafi dalam Nadmu Simthi Al- Durar: 92 cet. Maktabah Nainawa -Tehran- , Al-Syaukani datam tafsir Fath Al-Qadir.5,477 dari riwayat Ibnu Murdawaih, Al-Suyuthi dalam Al-Durr Al-Mantsur.7,589, dan Al-Syablanji dalam Nur Al-Abhar: 87.

Ibnu Asakir meriwayatkan dan Jabir bin Abdillah ra., ia berkata, "Kita bersama Nabi Saww. lalu datanglah Imam Ali as, maka beliau Saww. bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّ هَذَا وَ شِيْعَتَهُ لَهُمُ الفائِزُونَ يوم القيامةِ

Demi yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya orang ini dan Syi'ahnya benar-benar orang-orang yang beruntung di hari kiamat.

Lalu turunlah ayat tersebut.

Maka para sahabat Nabi Saww apabila Imam Ali As datang, mereka berkata, "Telah datang Khairul Bariyyah".

Dalam riwayat lain, Ibnu Asakir dan Ibnu Adi mengutip hadis dari Abu Sa'id yang ia marfu'kan (sandarkan) kepada Nabi saw.:

عَلِيٌّ خيرُ البَرِيَّةِ

Ali adalah Khairul Bariyyah, Ali sebaik-baik makhluk.

Ibnu Murdawih meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad bersambung kepada Imam Ali as., beliau berkata,"Rasulullah Saww telah berkata kepadaku, "Tidakkah kamu mendengar firman Allah yang berbunyi:

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS 98:7)


هُمْ أنت وَ شيعتُكَ، و مَوْعِدِيْ و مَوْعِدُكم الحوضُ إذا جاءَتِ الأُمَمُ للِحسابِ يومَ القيامة تُدْعَوْنَ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ

Mereka itu adalah kamu dan Syi'ahmu. Tempat perjumpaanku dan kamu adalah telaga, Al-Haudh. Ketika umat manusia untuk hisab, kalian akan dipanggil dalam keadaan berseri-seri/dengan wajah ceria

Al-Alûsi juga menyebutkan beberapa riwayat yang mendukung bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan keutamaan Imam Ali as dan keluarganya

Inilah mengapa Syiah disebut Syiah Ali, dan Hanya Mereka yang Mawaddah pada Aimmah AS akan memperoleh apa yang tidak pernah diperoleh oleh kebanyakan manusia..

Oleh karenanya tidaklah berlebihan bilamana dikatakan bahwa Syiah adalah Hum Ahlusunnah, Sebenar benarnya nya ahli sunnah, karena Fiqh Syiah mengikuti Imam Ali As (seorang Sahabat paling utama -special- dan Ahlul Bayt Suci Sekaligus) lewat jalur Imam Jafar As Shodiq As.

sementara lainnya mengikuti ucapan Ulama mereka dan kebanyakan mengambil fiqh dari 4 imam mahzab yang bukan generasi sahabat.

4 Imam Mahzab ( Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali ) adalah para Ulama kemudian yang hadir setelah beberapa generasi setelah generasi sahabat.

Lalu darimana mereka mengakui ikut sahabat, bila mana mereka tidak mau mengakui ke syiahan mereka atas Imam Ali As...?

> > Kajian akan bersambung pada Abdullah bin Saba adalah Hamba ALLAH-Fulan-unkhown (Abdullah) dari Bani Saba (Bani yang banyak orang yahudi saat itu)

Read more...

January 23, 2009

Fitnah Atas Syiah Perspektif Sejarah


Abdullah ibn Saba': Fitnah Kubra Terhadap Syi'ah


Tuduhan bahwa madzhab syiah adalah ajaran Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba' telah lama didawankan mayoritas masyarakat Islam dan mereka mengatakan bahwa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba' yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Allamah Murtadha Askari dalam Kitab susunannya telah meredaksikan detil bahwa satu satunya jalur cerita ibn saba dari versi sunni adalah bersumber dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M).

Para Sejarawan ini mengambil cerita Abdullah ibn Saba' dari satu sumber yaitu Saif ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Saif adalah seorang penulis yang tidak dipercayai oleh kebanyakan penulis-penulis rijal seperti Yahya ibn Mu'in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah ibn Saba', kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Uthman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat untuk menghasut orang ramai supaya bangun memberontak menentang khalifah Uthman. Saif dikatakan sebagai penyebar asas ajaran Sabaiyyah dan asas ghuluww (sesat).

Menurut Allamah Askari, keberadaan Abdullah ibn Saba' ini adalah hasil rekaan dan karangan Saif semata yang dia pula telah mencipta beberapa tokoh fiktif (Nama Nama Sahabat Fiktif - 150 orang fiktif), tempat dan kota khayalan. Dari cerita Saif inilah beberapa orang penulis dikemudian hari telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba' tersebut seperti :

  1. Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq
  2. al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin.
Allamah al-Askari mengatakan dalam keterangan penjelasannya dalam kitab beliau bahwa cerita Abdullah ibn Saba' yang terdapat dari riwayat syiah berasal dari Rijal oleh al-Kashshi. Al-Kashshi telah meriwayatkan dari Sa'd ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah ibn Saba' mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi. Mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup (walau bagaimanapun menurut Sa'd ibn Abdullah, Ali As telah Mengusir Ibn Saba' ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui Syahadahnya. Pada ketika ini Abdullah ibn Saba' mengatakan Ali AS tidak wafat sebaliknya akan kembali semula ke dunia). Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba' menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengisytiharkan Imamah Ali AS.

Allamah Askari pun menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bid'ah yang bertentangan dengan hukum Islam baik dalam madzhab Syi'ah atau Sunnah.

Kisah tersebut pula tidak pernah disebut oleh tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Saba' sebelum berlakunya peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS telah tidak disebut oleh penulis-penulis yang terawal seperti Ibn Sa'd (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi.

Hanya al-Baladhuri yang sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS berkata: " Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani - ibn Saba' datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakr dan Umar..." Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan keterangan bahwa orang ini sebagai Abdullah ibn Saba'.

Sa'd ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba' pengasas ajaran Saba'iyyah - sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan 'Sabaiyyah ', menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba'i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba'iyyah sebagai ' satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba'i'. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba' ini sebagai 'Abdullah ibn Wahb ibn Saba', juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda' al-Saba'i.'

Allamah Askari mengemukakan rasa keheranannya bahwa tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah ibn Saba' ini menyertakan nasabnya - satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Dikarenakan para Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba' , yang dikatakan berasal dari San'a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya.

Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba' dan golongan Sabai'yyah adalah satu cerita khayalan dari Saif ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba', seorang Rasibi, Azdi dan Saba'i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu untuk melukiskan watak khayalan yang menjadi orang pertama mengiystiharkan Imamah Ali AS. Watak ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, mengisytiharkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau diusir oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan selamanya setelah kewafatan Imam Ali AS, mengisytiharkan kesucian Ali AS dan Ali akan hidup kembali dan orang yang pertama bercakap dengan lantang tentang musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba'iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab yaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa'd ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Uthman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini.

Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai 'Saba'iyyah.' Ziyadpun menggunakan istilah sabaiyah kepada Mukhtar dan para sahabat setianya yang juga berasal dari Yaman. Setelah jatuhnya Bani Umayyah. Istilah Saba'iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi'ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad mahupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba'iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahawa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba'iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Saif ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba'.

Disadur dari situs shia susunan Abu Ashbal, Editing dan Olah bahasa oleh Radhi
(Terjemahan dari Jurnal Al-Tawhid, Vol.IV, No.4, 1407H, hlm.158-160)



Read more...

January 21, 2009

Ibunda Imam Mahdi As di Karbala

Pada hari kelabu tanggal 10 Muharram yang disebut hari Asyura itu, sesuai rencana Imam Husain as dan istrinya, Hazrat Sahr Banu, Dzuljanah sempat menunaikan tugasnya melarikan Shar Banu ke suatu tempat. Dalam sejarah dikisahkan sebagai berikut:



Tatkala Dzuljanah kembali ke perkemahan tanpa tuan yang telah menungganginya, seorang wanita yang mengenakan hijab tertentu turut mendekati Dzuljanah lalu menciuminya sambil meratap dan memeras air mata kesedihan. Wanita itu adalah Sahr Banu as, satu-satunya wanita non-Arab diantara wanita keluarga Imam Husain as yang mengerumuni Dzuljanah yang sudah penuh luka itu. Dia adalah puteri raja Persia yang telah mendapat anugerah Allah untuk menikah dengan cucu Rasul, Imam Husain as, dan setia kepadanya hingga akhir hayatnya sehingga dia tergolong wanita paling mulia. Tentang jati dirinya, ibu para imam suci sesudah Imam Husain ini berkisah sendiri sebagai berikut:

"Di suatu malam aku pernah bermimpi berjumpa dengan Khatamul Anbiya Muhammad Al Musthofa Saww. Beliau singgah di beranda istanaku yang megah. Beliau bersabda kepadaku: 'Hai puteri raja Persia, aku telah menjodohkan kamu dengan puteraku, Husain.' Rasul kemudian pergi meninggalkan istana. Setelah itu aku didatangi oleh seorang wanita mulia, Fatimah Azzahra as yang diiringi oleh para bidadari. Beliau memelukku sambil berkata: 'Kamu adalah calon isteri puteraku. Kamu adalah menantuku. Ketahuilah bahwa tak lama lagi umat Islam akan menaklukkan (kerajaan)-mu sehingga kamu akan menjadi tawanan. Tetapi janganlah kamu risau, karena di Madinah kamu akan berjumpa dengan (calon) suamimu.'"

Benar, tak lama setelah itu terjadilah perang besar antara pasukan Islam dan pasukan imperium Persia. Prajurit Islam berhasil menaklukkan kerajaan besar ini.

Sang raja[1] melarikan diri, sementara sebagian dari keluarga istana, termasuk puteri-puteri raja, tertangkap dan menjadi tawanan. Mereka diboyong ke Madinah. Kedatangan puteri sang raja mengundang perhatian warga Madinah sehingga mereka datang berbondong-bondong untuk menyaksikannya. Saat itu, di dalam masjid khalifah Umar menyakan dimana puteri-puteri raja itu. Orang-orang lantas menunjukkan mereka. Rupanya, satu diantara mereka nampak sangat anggun dan seperti bercahaya. Umar meminta puteri anggun supaya memperlihatkan wajahnya yang tersembunyi di balik cadar. Namun, puteri ketakutan dan menolak.

Diperlakukan seperti itu, Umar sebagai khalifah tersinggung berat sehingga dia memerintahkan supaya tawanan yang satu ini dihukum mati. Untungnya, diantara hadirin terdapat Imam Ali bin Abi Thalib as. Sepupu Rasul ini bangkit menentang perintah eksekusi itu.

"Dosa apa puteri sehingga kamu akan mengeksekusinya?", tanya Imam Ali as.

"Orang ajam (non Arab) ini telah menghinaku." Jawab Umar.

Imam Ali as berkata: "Dia membenci kakeknya, Khusru, dan dia tidaklah seperti para pengeran sehingga kamu pantas memperlakukannya demikian. Bebaskanlah puteri-puteri ini agar mereka bisa mendapatkan jodohnya diantara para pemuda kita."

Ide Imam Ali ini kemudian dipenuhi sehingga didatangkanlah para pemuda Muslim Madinah di aula masjid. Imam Ali as meminta kepada puteri-puteri bangsawan itu untuk bangkit dan memilih jodoh yang dikehendakinya diantara para pemuda itu.

Dalam kitab AlKharaij Arrawandi dikisahkan bahwa saat itu puteri raja Persia yang paling anggun itu bangkit dan menatap satu persatu barisan pemuda yang menyatakan siap untuk menikah dengan puteri-puteri raja itu. Sampai pada giliran pemuda Husain bin Ali as, tatapan mata gadis bernama Jahan Syah itu terhenti dan tak berpijak ke arah lain. Setelah merasa yakin dengan pemuda putera Azzahra as itu, dia berkata: "Jika aku memang diberi pilihan, maka aku akan memilih pemuda ini."

Setelah dipilih gadis itu, Imam Husain as yang saat itu berusia 18 tahun memintanya supaya nama Jahan Syah diganti dengan nama Syahrbanu.[2] Imam Ali as kemudian meminta Imam Husain supaya segera membawa menantunya itu pulang. Beliau juga memberitahu Imam Husain bahwa perkawinan ini akan segera dianugerahi dengan kelahiran seorang putera yang sangat agung dan mulia. Putera itu tak lain adalah Ali Zainal Abidin Assajjad as. Putera yang berusia 23 tahun saat ayahandanya dibantai di padang Karbala pada hari Asyura, dan dia sendiri dalam keadaan sakit parah dan ditangisi oleh ibundanya.

Menjelang detik-detik perpisahan dengan suaminya, Imam Husain as, Sahr Banu bersimpuh dengan beliau. "Wahai putera Rasul."‌ Ucap Shar Banu. "Demi ibundamu Fatimah Azzahra, pikirkanlah nasibku nanti, karena di sini aku akulah orang yang paling asing. Selama ini aku bernaung di bawahmu dan dengan ini aku menjadi mulia. Namun, katakanlah apa yang aku lakukan nanti setelah kepergianmu? Aku bukanlah orang Arab ('ajam), dan engkau sendiri tahu besarnya permusuhan antara Arab dan 'ajam."‌

Sambil berlinang air mata, Imam Husain as menjawab: "Janganlah cemas, sebab Allah yang telah mengantarkanmu dari negeri 'ajam ke negeri Arab mampu mengembalikanmu ke negerimu lagi. Nantikanlah nanti sepeninggalku; Dzuljanah akan datang ke perkemahan. Naikilah Dzuljanah dan pergilah dari sini, dan ketahuilah pasukan musuh tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadapmu."‌

Diriwayatkan bahwa ketika Dzuljanah kembali dalam keadaan tak bertuan, Shar Banu ikut menyambutnya dengan ratap tangis hingga kemudian mengendarainya untuk pergi ke negeri asalnya. Sebelum pergi, beliau sempat ditegur oleh Hazrat Zainab.

"Hai menantu Fatimah Azzahra, gerangan yang sedang engkau pikirkan? Adakah engkau akan menambah berat beban kesedihan kami dengan kepergianmu?"‌ Ujar Hazrat Zainab.

"Aku harus pergi sesuai perintah suamiku, Husain."‌ Jawab Sahr Banu kepada adik iparnya itu.

Kepergian Hazrat Sahr Banu menuju negeri Persia itu dilepas dengan derai tangis orang-orang yang ditinggalkannya. Saat Dzuljanah sudah siap mengantarkan perjalanan jauh itu, Assajjad As berkata lirih kepada ibundanya:

"Ibunda, bersabarlah hingga aku ucapkan salam perpisahan denganmu."‌[3]

Assajad As berusaha bangkit, namun tenaganya yang tersisa tak mendukungnya untuk berbuat itu sehingga sang ibu mendekati sendiri anaknya. Sambil memeluknya erat-erat beliau berucap: "Aku harus pergi dari sini sesuai perintah ayahmu. Aku telah menitipkanmu kepada bibimu, Zainab, karena aku tahu dia lebih penyayang daripada aku."‌

Ibunda Assajjad akhirnya pergi dibawa oleh Dzuljanah. Beberapa orang pasukan musuh sempat melihat bayangannya dari kejauhan saat beliau bergerak pergi seorang diri. Mereka berusaha mengejarnya, namun mereka terpaksa kembali lagi setelah kecepatan kuda Dzuljanah tak terkejar oleh kuda-kuda pasukan musuh.

Dalam perjalanan, Hazrat Sahr Banu sempat berpapasan dengan kafilah yang sedang bergerak menuju Kufah. Orang-orang kafilah berhenti saat menyaksikan seorang wanita bercadar sendirian mengendarai kuda yang penuh luka. Seorang lelaki yang mengetuai kafilah mencegat beliau dan bertanya: "Hai siapa kamu? Mengapa kamu menempuh perjalanan seorang diri di tengah sahara?"

Suara lelaki itu dikenal oleh Sahr Banu. Pria itu ternyata adik beliau dan setelah saling menyadari, beliau balik bertanya: "Adikku, hendak kemanakah kamu?"

Pria itu menjawab: "Aku hendak menemui suamimu. Karena dia telah menuliskan surat kepadaku dan menyatakan bahwa beliau akan berperang dengan sekelompok musuh, dan sekarang aku datang bersama teman-temanku untuk membantunya."‌

Sahr Banu menjawab: "Tak usah kamu pergi. Kembalilah karena Husain sudah terbunuh dalam keadaan kehausan, dan inilah kudanya sekarang aku kendarai."

Berita ini mengejutkan sang adik yang segera jatuh tersimpuh ke pasir. Sahr Banu kemudian melanjutkan perjalanan ke arah tujuan sebagaimana mereka juga melanjutkan perjalanan ke arah tujuan mereka, setidaknya untuk menyaksikan bagaimana nasib keluarga Imam Husain as.

Dengan bantuan dan perlindungan dari Allah, janda Imam Husain as berdarah bangsawan Persia itu akhirnya tiba di bumi leluhurnya. Beliau menetap di kota Rey dan meninggal di sana. Jasad suci beliau dikebumikan di sebuah gunung di pinggiran kota Teheran. Lokasi makamnya selalu disesaki para peziarah hingga kini.


----------------------------

[1] Raja itu adalah Yazdgard III. Disebutkan bahwa saat terjadi perang Qadisiah yang menewaskan lima puluh ribu pasukan Persia, Raja Yazdgard terpaksa melarikan diri. Sebelum melarikan diri dia sempat berdiri di beranda istana sambil berseru: "Selamat tinggal beranda! Ketahuilah bahwa aku akan kembali kepadamu, atau kalau bukan aku, maka yang kembali adalah seorang pria dari keturunanku." Sulaiman Addailami pernah bertanya kepada Imam Jakfar Asshadiq as tentang siapa yang dimaksud oleh Raja Persia itu. Imam Asshadiq as menjawab: "Dia adalah Al-Qaim, yaitu salah seorang puteraku dari generasi keenam, dan dia juga termasuk keturunan Yazdgard III. (Kitab Malahim hal.149 menukil dari Ibnu Shar Asyub dalam bab Imamah; Setara-e Dirakhsyan juz 1 hal. 230)

[2] Arba'in Husaini hal.130

[3] Jami' Annurain hal.228


[Dinukil dari Abatasya Judul Asli Hijrahnya Hazrat Sahr Banu, di sesuaikan dengan nuansa, tata letak dan alur bahasa blog Radhi]


Read more...

Kerancuan Definisi Hadits dan Sunnah (2)

Kerancuan Definisi Sunnah

Para ahli hadits, dan banyak di antara kita, menyamakan hadits dengan sunnah. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. Selain al-Qur'an berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir, yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib, al-Sunnah Qabl al-Tadwin, h.16)

Jadi menurut ulama ushul fiqh, tidak semua hadits mengandung sunnah. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata, "Dalam hadits ini ada lima sunnah, fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka, dalam hadits hanya ada tiga sunnah.

Masalahnya sekarang: kapan perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi saw. Itu tepat disebut sunnah?

Seandainya seorang sahabat berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram," dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak, karena perbuatan Nabi saw. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Batuk tidak bernilai syar'i.

Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. duduk tasyahhud, "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum.

Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). Banyak orang, termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah, menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. yang dilaporkan dalam hadits. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. Membalikkan serbannya, sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik.

Dalam riwayat lain, Nabi saw. memindahkanserbannya, sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. Kata Syafi' i, "Nabi saw. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. Imam Hanafi dan sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga, apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja.

Karena itu, Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. Ketika terjadi perbedaan paham, maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum; sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. Karena sunnah adalah hasil penafsiran, nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an.

Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya, kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat, bahkan sunnah para tabi'in. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas, pada kenyataannya tidak lagi dipakai. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat, kemusykilan tentang sunnah makin bertambah.

PENUTUP.

Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu, budaya, ekonomi, hukum, dan masyarakat, kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an).
Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun, kita harus melihat hadits. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam, harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan
ajaran Islam. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam.

Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu.

[JR ; Al Musthofa 31-40]

Read more...

Kerancuan Definisi Hadits dan Sunnah (1)

Kerancuan Definisi Hadith

Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. Ia berkata. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid, anaknya. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar.

Abdurrahman bin Abu Bakar berkata, "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Demi Allah, Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya." Marwan marah dan menyuruh agar Abdurrahman bin Abu Bakar ditangkap. Abdurrahman bin Abu Bakar lari ke kamar saudaranya, Aisyah.

Marwan melanjutkan khotbahnya, "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. Ia berkata, "Marwan berdusta. Marwan berdusta. Demi Allah, bukanlah ayat itu turun untuk dia. Bila aku mau, aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. Tapi Rasulullah saw. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah."

Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i, Ibn Mundzir, al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481; Tafsir al-Qurthubi 16:197; Tafsir Ibn Katsir 4:159; Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491, Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya).

Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abdurrahman bin Abu Bakar. Inilah riwayat
Bukhari :

Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat sesudah bapakuya. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. Ia berkata, "Tangkaplah dia." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata, "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua, apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku.

Hadits ini adalah hadits No. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576).

Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari, tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. Yang pertama menyebutkan, asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta, karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya.

Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. Nurrudin Atar, Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits, halaman 26).

Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya.

Bila kita membuka kitab-kitab hadits, segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya, tidak berkenaan dengan ucapan, berbuatan atau taqrir Nabi saw. Sekedar memperjelas persoalan di sini, dikutipkan beberapa saja diantaranya.

Pada Bukhari, hadits No. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan dengan urusan ekonomi, seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Ia selalu menyertai Nabi saw. Untuk mengenyangkan perutnya, menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain, dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain.

Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya, padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan, perbuatan atau taqrir Nabi saw. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi, karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw.). Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari.

Mungkin bagi banyak orang, riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits, sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat, para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat, disebut hadits maqthu. Dalam Shahih Bukhari, misalnya, ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang." Ini bukan sabda Nabi saw.

Menurut Bukhari, ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Karena itu menurut Dr. Atar, definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in."

Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. Atar. Bila ya, harus mengubah anggapan kita selama ini. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. Kembali kepada Rasulullah saw. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama).

Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Hadits itu berbunyi, "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap." Hadits ini merupakan ucapan 'Abdullah al-Bajali, bukan ucapan Nabi saw. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). Demikian pula, kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional, didasarkan kepadahadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. Akhirnya, perhatikanlah hadits ini:

Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. Ia berkata: Padaku ada hadits. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Dan pada zaman Abu Bakar ra. Ketika Umar berkuasa, ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. Adalah Rasul ini, dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. Yang pertama muth'ah perempuan. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu, aku aakan melemparinya dengan batu. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu').

Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206; dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Sampai ke zaman Abu Bakar ra.

Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang pertama dan menafikan pendapat Umar.

Walhasil, dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in, kita mengamalkan juga sunnah para sahabat, yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah.

>> 2

Read more...

January 19, 2009

Bukti Kekalahan Zionist Israel

Zionist Israel tidak akan menang melawan Haq

Memasuki pekan keempat serangan brutal militer Israel ke Gaza, dan tidak tercapainya target-targetnya, serta guna mencegah kerugian yang lebih besar, para pejabat Tel Aviv mengumumkan gencata senjata secara sepihak. Pengumuman gencatan senjata tersebut terjadi setelah sebelumnya didengungkan indikasi kekalahan Rezim Zionis dalam serangannya ke Jalur Gaza.

Pada hakikatnya, gencatan senjata sepihak oleh Israel ini merupakan statemen para pejabat Tel Aviv soal kegagalannya mencapai target mereka serta bukti kelamahan Rezim Zionis dalam menghadapi perlawanan heroik bangsa Palestina. Tujuan serangan Israel ke Gaza adalah penghentian perlawanan Palestina, penghentian gerakan resistensi, serta pemusnahan eksistensi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas). Namun tak satupun dari tujuan tersebut yang berhasil dicapai. Pada awalnya, para pejabat Israel memprediksikan bahwa serangan masif mereka ke Gaza akan berlangsung kurang dari satu minggu.

Dalam hal ini, kita dapat merunut pada pernyataan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, dan Ketua Dinas Rahasia Israel (Mossad), Meir Dagan, sebelum agresi militer Zionis ke Gaza. Dua hari sebelum serangan terjadi, Livni mengatakan, berdasarkan prediksi lembaga-lembaga keamanan Israel, Hamas dapat diberantas hanya dalam tiga atau empat hari saja. Di lain pihak, Meir Dagan juga menyatakan bahwa militer Zionis dapat menghancurkan Hamas dalam sepakan serta dapat memaksa warga Jalur Gaza menyerah. Namun perlawanan heroik warga Palestina telah membuyarkan prediksi Israel.

Masalah kian lamanya pertempuran di Gaza ini membuat para pejabat Israel semakin mengkhawatirkan kekalahan mutlak Israel. Guna menghindari hal itu terjadi, Israel segera mengumumkan gencatan senjata secara sepihak. Selain itu, pengumuman gencatan senjata sepihak ini juga dimanfaatkan Israel untuk menampilkan kesan cinta perdamaiannya. Namun, terdapat tujuan penting lain yang diacu Israel yaitu menggagalkan upaya internasional untuk menghentikan serangan Israel ke Gaza serta penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa pengumuman gencatan senjata sepihak Israel ini adalah dalam rangka mengumpulkan kekuatan baru untuk melancarkan serangan tahap berikutnya. Oleh sebab itu, para pejabat Hamas menilai pengumuman gencatan senjata sepihak tersebut sebagai tipu muslihat Israel dan menekankan berlanjutnya perlawanan.

Dalam hal ini, Talal Nisar, anggota senior Hamas juga menyatakan bahwa para pejuang akan tetap siaga di posisi masing-masing sampai pasukan dan tank-tank Zionis keluar dari Gaza. Adapun pejabat Biro Politik Hamas, Muhammad Nazzal menyatakan, "Jelas bahwa gencatan senjata harus disertai dengan pencabutan blokade serta penarikan mundur seluruh pasukan Israel dari Gaza. Dan selama tentara Zionis bercokol di Gaza, maka perlawanan akan berlanjut".(contributed IRIB)




Read more...

January 17, 2009

Tanggapan atas Hadits Israiliyah

Dan Hujjah ALLAH AWJ pun membungkan mereka...

"Sulaiman mempunyai mukjizat tidur dengan wanita 100x semalam."

Demikian ia mengawali paparannya

Demi mendukung Hujjah ia ajukan hadits Dari Bukhari sanad Abu Hurairah begini hadithnya :

Abu Hurai­rah telah berkata, "Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

sejuta dalil mereka bawakan - saya menyebutnya berqiyas, namun hal itu tidak lain malah menambah keroposnya hujjah.

Jawaban Radhi :

Harus sama sama sepakat bahwa yang sedang dibahas adalah Nabi ALLAH yang Mulia dan bukan tukang sapu jadi harus di sematkan 'Nabi' diawal penyebutan Nama Beliau As.

Sama sama sepakat Al Karim Surah As Shaad ayat 30 : Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Pertama, Abu Hurairah mendapat gelar Mudhalist dari Aisyah dan di Ancam Umar tuk dicambuk karena terlalu seringnya berbohong. Barometer selanjutnya adalah Para Tabi'in yang sejatinya adalah mercu suar para pengikut Salaf mengakui tidak memakai hadits hadits periwayatan Abu Hurairah. (ref to ibn Quthaibah mushaf)

Kedua, Hadist harus diuji dengan Al Quran. Landasannya Aisyah berkata Rasulullah Saww adalah Al Quran berjalan [ Bukhari ]

Ketika disajikan Sebuah Hadits harus di perhatikan Sanad dan Matannya. Lalu gunakan barometer aqli dan Al Quran sebagai Jawaban finalnya.

Saya akan ajukan metode reverse logic bagi kaum ortodoks karena mereka kerap hanya bertumpu pada literature semata. Alasan lainnya, Metode sederhana ini cukup memberi gambaran secara gamblang bagaimana Ke ‘rusakan’ Hadits tersebut.

Al Quran Surah As Shaad ayat 30 :

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Ayat diatas jelas menggambarkan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah para pribadi Agung yang toat dan sebaik hamba

Perhatikan redaksi hadits :

Abu Hurai­rah telah berkata, "Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. (berpaling /cuek/mengabaikan Malaykat ALLAH)

Dalam Hadits ini jelas sekali diperlihatkan bagaimana Nabi Sulaiman As sebagai pribadi pembangkang..

Kedua, redaksi ini berubah ubah, pertama abu hurairah menyatakan 100 wanita, lalu kemudian 70 wanita, lalu di tempat lain 80 wanita, dst.

Hal ini menandakan bahwa ia –Abu Hurairah – hanyalah mengarang Hadits dan ia tidak pernah mendengar langsung dari Lisan Suci Rasulullah Saww.

Ketiga, Hubungan Suami Istri adalah Hubungan yang dilandasi oleh manusiawi, artinya dalam aspek apapun hatta seorang nabi sekalipun tidaklah mungkin dapat berhubungan sebanyak 100x semalaman.

Apakah ini bentuk keraguan pada Nabi ALLAH?
Sederhana menjawabnya, Saya meragui kebohongan pembawa Hadis yang pandai berbohong. Sederhananya pembawa hadis tidak pintar berkreatifitas.
Dan tidak ada hubungannya dengan Nabi ALLAH.

Sebagai manusia yang zohirnya sama seperti manusia pada umumnya, tidaklah ada yang mampu berhubungan 100x semalam..!

Pembahasan :
Saya memaknai hadist ini adalah hadist Israiliyat (Hadist yang di inspirasi dari pemikiran Yahudi lampau) dengan tujuan menjatuhkan martabat Nabi ALLAH dan juga merendahkan Utusan ALLAH.

Dalam makna luas ia akan berakibat fatal, seperti tercerabutnya iman dari dada tanpa ia sadari.

Mengapa ada di kitab Shahih bukhari ?

Shahih menurut Bukhari bukan berarti shahih menurut Al Quran.

Ada banyak factor yang menyebabkan hadis ini masuk dikitab bukhari, tekanan penguasa misalnya. Karena muktabar dikalangan pengkaji rijal bahwa syaikh bukhari sering pingsan karena mengkaji hadist.

Saya katakan, tidak pernah ada orang pingsan karena mengumpulkan hadis, karena ia adalah pekerjaan yang menyenangkan lagi menggembirakan. Pastilah ada factor lain yang mengakibatkan Bukhari pingsan. Stress karena tekanan mungkin, tenggat waktu dari penguasa kala itu. Dan lain sebagainya.

Sesungguhnya keberhati hatian dan sikap kritis amatlah sangat diperlukan dalam pengkajian agama, sesuai dengan Titah Suci Baginda Agung Rasulillah Saww :

“Terimalah apa yang sesuai dengan al Quran, dan tolaklah apa yang bertentangan dengannya”

Salam ya Sulaiman ibn Daud alaihissalam..
Salam sejahtera atasmu duhai Nabi Agung…

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

Sebaik baik Hamba tidak mungkin lupa berkata Insya ALLAH dan tidak mungkin berpaling dari Jibril Utusan ALLAH yang terpercaya.

Sayyid Qutub dalam Fii dhilal Al Quran Juz 23 hal 99 setelah mengkaji Hadits Hadist Israiliyah tersebut, Beliau berkata : "Semua hanyalah rekaan dan dugaan (bualan) Abu Hurairah semata"


Read more...

Catatan Pinggir 19 Muharam 1430

42 Tahun lalu, tepatnya 5 Juni 1967, israel didukung Amerika dan Inggris menaklukan Negara Negara Arab dalam perang 6 harinya dan memaksa mereka mengakui kekuatan zionist..

Tapi kini Israel bukan lagi momok menakutkan khususnya bagi Hizbullah dan Hamas, Hizbullah yang telah memetik kemenangan besar atas Zionist Israel lewat perang 33 Harinya telah memberikan corengan lebih dalam diwajah Amerika dan Inggris.

Dan saat ini lewat keteguhan HAMAS dan Rasa cinta pada Haq, HAMAS membuktikan eksistensinya dalam menghantam kekuatan Zionist dan para Kroni Arabnya.

Hal ini sekaligus pula mencoreng para petinggi Arab yang telah bahu membahu menikam Palestine dari belakang.

Perbatasan mereka tutup, Hak Hidup Gaza mereka 'sunat' dan semua upaya mereka lazimkan demi memboikot Hamas, sama seperti 14 abad yang lalu Kafirin Quraish memblokade Rasulullah Saww dan Kaum Muslimin. Dan Hamas pun telah membuktikan bahwa Kebathilan pasti akan tumbang sekuat apapun ia.

Kabar terakhir dari Gedung Bundar UN di New York adalah kecaman berbagai Negara datang kepada Duta Israel. Karena Mereka telah melecehkan hukum internasional dan menghalalkan segala cara. Tak tertinggal Rise pun geram setelah tahu Zionist menghancurkan Aset UN di Palestine dengan Dalil dijadikan Markas pejuang Gaza.

Non Sence..!! demikian sergap para petinggi UN

Sedemikian pula dengan Para petinggi arab yang berlindung dibalik ketiak Zionist. Mereka pun telah dihina secara langsung Oleh Hamas dengan kemenangan besar memukul mundur Tentara Zionist pada jumat sore yang mencoba memasuki Kota Gaza, Perlawanan Sengit Muqowamah dan dibantu "Tentara Tuhan", Hamas menghancurkan beberapa Tank Canggih dan menewaskan puluhan tentara lainnya seperti dilaporkan Presstv.

Walau jumlah Korban di Gaza sudah 1300 orang dan yang luka mencapai 5500 orang, hal ini tidak menyurutkan semangat para Gazans tuk membela tanah air mereka. Dan Walau Kaum Hipokrit Arab berkolaborasi menghancurkan Hamas, tidak akan membuat Hamas mundur.

Dunia tidak Buta, Alam pun akan menunjukkan keadilannya, siapa yang menuai benih dia memetik hasil. Fatah rekan senegara Hamas yang diam saat Gaza Dibantai dan Mesir beserta para petinggi Arab yang mendukung Genocida Gaza dan tenang dalam buaian Barat seraya membiarkan Bayi bayi di sembelih pastinya akan menerima Murka Alam.

Dilain pihak Hubungan Hamas dan Hizbullah yang telah terjalin hampir lebih dari 1 dekade pun akan membungkam para pribadi hasad yang telah bersuarakan mendengki seraya mempertanyakan 'mengapa Iran tidak membantu Hamas ?'

Dengan penuh senyum simpul saya menjawabnya, Mengapa tidak antum atau Fatah yang membantu Hamas?

Tanpa didikte, Iran dan Hizbullah telah bahu membahu dalam perjuangan ini.

Kenapa anda yang telat bangun dari mimpi panjang, pihak lain yang dipersalahkan..?

Yang demikian adalah salah satu pertanyaan kurang berbobot yang keluar dari lisan mereka, sungguhpun demikian, bukanlah kerugian besar mengesampingkan pendapat pandir kaum hasad yang hanya bisa mengkritik namun mandul tindakan.

Hal yang sampai saat ini menarik bagi saya dan hendaknya pula menjadi panggilan atas mereka, yaitu tidak adanya fatwa kecaman atas Zionist dari Majelis Fatwa Riyadh.

Sepanjang 21 Hari ini saya melihat Hanya ada 1 fatwa yang menceritakan keprihatinan Gaza namun tidak mengutuk Zionist. Ini yang menimbulkan pertanyaan, mengapa Prihatin menjadi Fatwa?

Bila hanya prihatin, anak sekolah dasar lebih pintar dan tidak perlu difatwakan ya Syaikh Abdul Aziz... Justru yang sangat dinantikan adalah keluarnya Fatwa dukungan atas Gaza dan Fatwa mengecam Zionist, tuk membuktikan bahwa anda berani dan masih memiliki tautan iman atas saudara di Gaza, Hendaknya juga anda membuat fatwa seraya membayangkan yang dibantai dan disembelih adalah Anak anda sendiri..

Tapi sudahlah.. tampaknya tidaklah berguna mengharap pada anda, yang telah mengeraskan hati dihadapan Syuhada Gaza.. Kiranya ALLAH AWJ merahmati Anda.

Pada saatnya nanti waktu akan membuktikan bahwa Segala rencana kaum hipokrit yang telah bahu membahu dalam penbantai gaza akan di tampakkan ALLAH AWJ.. dimasa itu pula tidak ada satu kekuatan pun yang mampu melawan kekuatan CahayaNYA.

Dan Walau sehancur apapun, Gaza adalah Gaza yang tidak akan pernah tunduk pada Kezholiman, pantang menghinakan diri demikian pekik Muqowamah

Sama seperti semangat al Husein Putra Haidar As.. PANTANG HINA..!!

Lebih baik mati terhormat dari pada hidup terhina sambut yang lainnya, ALLOHU Akbar...!!!
Saut menyaut terdengar bergemuruh kala Ismail Haniyah memompa semangat jihad para Syuhada Gaza.

- = -

Bagi Sebagian analis telah diamini bahwa Kedekatan HAMAS dengan IRAN dan HIZBULLAH bukanlah sebuah omong kosong belaka, karena telah sejak lama kerjasama terjalin, hal ini terbukti saat meninggalnya Salah seorang Petinggi Hizbullah Imad Mughniyah ditangan Zionist, Gaza tumpah ruah menyatakan bela sungkawa, yang bahkan Herald Tribun dalam edisi Maret 2008 mencetak besar besar Judul "Pendukung Hamas banyak yang Syiah"

Subhanallah..

Sungguh sebuah kenyataan yang indah..
dimana nilai nilai perjuangan sejati tampak dari jiwa jiwa mereka.

Tidak ada kata yang dapat mengukir nya hanya satu ungkapan kecil setidaknya mampu mewakili

Salam atas Gazans.. Anda tidak akan pernah Sendiri..
Salam ALLAH atas Syuhada Gaza.. sungguh pengorbanan mereka tidak akan sia sia..
Dan Kemenangan pasti pada Hizbullah yang Aslam pada NYA..

Bi Haqqi Hussein Wa Aalihi ..
Semangat Putra Haidar akan terus membara dihati Pecintanya

Dan semoga Para Ulama Wahaby di ujung sana tidak tertahan membuat Fatwa mendukung HAMAS hanya karena HAMAS banyak yang syiah. Seperti pengalaman tahun 2006 mereka tertahan mendukung Hizbullah karena kesyiahan Hizbullah dan pada akhirnya malu pun kembali pada disisi mereka sendiri..

Semoga ya Syaikh...!!

Catatan 19 Muharam 1430




Read more...

Menengok Sisi Lain Peperangan Gaza

Banyak berita tersaji, namun belum tentu real disampaikan seperti real dilapangan, Terlebih lagi demi menjaga moral prajurit -demikian menurut pejabat Tel Aviv- jumlah korban luka dan tewas tidak di buka secara gamblang.

Selama ini zionist selalu berusaha menempatkan pihaknya seperti malaykat pencabut nyawa dan menyebarkan informasi yang tidak berimbang.

Berikut adalah sedikit gambaran mengenai sisi lain perang yang tidak akan pernah di publish di pihak Zionist.
* *

Muqawama Berhasil Bantai Lebih dari 183 Tentara Israel

Situs Brigade Al-Quds, sayap militer Gerakan Jihad Islam melaporkan, muqawama Palestina menegaskan bahwa sejak perang dimulai hingga kini (15/01) mereka telah menewaskan sedikitnya 227 orang Zionis Israel.

Komite Muqawama Palestina dalam pernyataan militernya dan satu naskahnya telah dikirimkan kepada televisi Al-Alam bahwa mereka telah menewaskan 183 tentara, 44 warga dan mencederai 207 lainnya, ditambah jumlah yang tidak terbatas dari korban tentara baik yang tewas maupun luka-luka di pihak Israel.

Berdasarkan pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Brigade Ezzeddin Qassam (Hamas), Brigade Syuhada Al-Quds (Fatah), Brigade Al-Quds (Jihad Islam), Brigade Nasir Salahuddin (Komite Perlawanan Kerakyatan Palestina), Brigade Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, Brigade Ahmad Abu Ar-Rish, Brigade Abu Ali Mustafa dan Brigade Jihad Jibril, mereka telah melakukan sekitar 160 operasi militer menghadapi militer Zionis Israel selama 20 hari.

Dari operasi yang dilakukan para pejuang Palestina berhasil menewaskan 227 Israel dan mencederai 207 lainnya dalam 32 operasi militer sementara dalam 128 operasi lainnya tidak disebutkan jumlah korban di barisan militer Israel, karena sulit menghitungnya secara khusus. Operasi-operasi militer berhasil menembus masuk ke barisan musuh, namun pihak Zionis Israel memberlakukan sensor ketat sehingga tidak diketahui secara pasti kerugian yang mereka derita.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Brigade Ezzeddin Qassam berhasil menewaskan 113 tentara Israel dan mencederai 110 lainnya dan telah meluncurkan banyak roket dan mortir ke daerah-daerah permukiman zionis di Palestina pendudukan dalam 25 operasi.

Brigade Syuhada Al-Quds menegaskan bahwa dalam 17 operasi dan infiltrasi yang mereka lakukan berhasil menewaskan 10 tentara dan mencederai 60 lainnya. Jumlah ini belum termasuk korban akibat tembakan roket ke arah Palestina pendudukan dan kontak senjata bersama unit-unit kecil tentara Israel yang berada di sekitar Gaza.

Brigade Al-Quds menyatakan berhasil menewaskan 12 tentara Israel dan mencederai 5 lainnya dalam 16 operasi militernya di Gaza. Jumlah ini belum termasuk banyaknya korban yang tewas dan cedera akibat serangan roket di Palestina pendudukan.

Brigade Nasir Salahuddin menyebut berhasil menewaskan 2 tentara dan mencederai 12 lainnya. Mereka juga berhasil menciptakan kerugian besar di pihak musuh dan berhasil menghancurkan kendaraan-kendaraan militer dalam 45 operasi militer.

Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina berhasil menewaskan 39 tentara Israel dan mencederai 5 lainnya dalam 19 operasi yang dilakukan di dalam kota Gaza dan daerah-daerah Palestina pendudukan.

Brigade Ahmad Abu Ar-Raisy berhasil menewaskan 7 tentara Israel dan mencederai lebih dari 17 lainnya selama serangan Israel. Jumlah itu belum termasuk korban akibat tembakan sejumlah roket ke daerah-daerah permukiman Palestina pendudukan dan kerugian yang diterima musuh.

Sementara Brigade Jihad Jibril mampu melakukan sejumlah operasi di Gaza dan Palestina pendudukan serta berhasil menewaskan dan mencederai banyak tentara Israel di daerah-daerah di Jalur Gaza.

Militer Zionis Israel sampai saat ini melakukan sensor ketat terkait kerugian yang dideritanya selama ini agar dapat menahan anjloknya semangat pasukannya. Terlebih setelah munculnya tanda-tanda kecenderungan tentara Israel menolak untuk membunuh penduduk sipil Palestina.

Sumber-sumber Zionis Israel terakhir mengakui seorang tentara cadangannya menolak dikirim ke medan perang sebagai bentuk protesnya membantai orang-orang tak berdosa. Ia didili dan dipenjara selama 14 hari.

Sumber-sumber itu juga menegaskan untuk pertama kalinya sejak perang muncul keinginan menolak perintah militer Israel dengan alasan ideologi yang berujung pada penolakan seorang tentara cadangan untuk ikut dalam operasi militer.

Michael Sefarad pengacara gerakan "berani menolak" menyebut 8 tentra cadangan Israel mengkonsultasikan keinginan mereka untuk mengumumkan menolak perintah untuk ikut dalam operasi militer di Gaza. Mereka bertanya mengenai hukuman paling berat yang akan mereka terima bila menolak, sambil mereka juga menegaskan bahwa semakin lama operasi militer keinginan mereka menolak akan semakin memuncak.

Penulis dan pakar militer Avi Vaksman dalam artikelnya yang dipublikasikan pekan lalu oleh koran Maariv menulis, sumber-sumber Israel tidak akan mengakui jumlah korban yang tewas dan cedera di pihak militer rezim ini agar tidak memberikan kekuatan dan spirit yang lebih kepada para pejuang Palestina dan sekaligus tidak menurunkan semangat tentaranya yang kalah. Vaksman menambahkan, Israel tidak akan mengumumkan jumlah korban kecuali hanya menyebut 10 korban tewas. Mereka tidak akan mengumumkan lebih dari itu, sekalipun jumlah korban telah melebihi seratus tentara. Karena di Israel ada undang-undang yang melarang korban tentara lebih dari 10 orang. (presented by Saleh Lapadi)


Read more...

Rahbar Letter to Palestine PM

Gaza Victory

In the Name of God, the Compassionate, the Merciful

Dear Mujahid Brother Ismail Haniya,

Peace be upon you for your patience.

The 20-day perseverance of you, the courageous resistance fighters and the people of Gaza against one of the most atrocious war crimes in the history of the world has hoisted the flag of glory overhead the Islamic Ummah. You have proven that Muslim hearts filled with confidence in God and the Day of Judgment, which will not bow to oppression, can create such heroism that will bring the arrogant powers of the world and their well-equipped armies to their knees.

The army, which you have managed with your perseverance to keep outside Gaza City for the past 20 days, is the same army that took large portions of three Arab states in just six days.

You must be proud of your unshakable faith in God Almighty and his promises, you must be proud of your courage, patience and sacrifices, as today, the whole of the Muslim world is proud of it. Your resistance has brought shame on the US, the Zionist regime and their supporters, the United Nations, and the hypocrites in the Islamic Ummah.

Today, not only Muslim nations, but also many European and American nations have acknowledged your righteousness. In our eyes, you are victorious today and with the continuation of your resistance, you will further bring shame to the enemy.

You must remember that "Your Lord has not forsaken you, nor has He become displeased," and that "Soon your Lord will give you so that you shall be well pleased," God willing.

Nevertheless, atrocities committed in Gaza and the death of innocent Palestinians, especially the children, has deeply saddened us. Our entire nation is in mourning because of the crimes committed by the occupiers of Palestine which are broadcast from our television channels everyday.

May God make your reward great and hasten your victory. As God Almighty never goes back on His promises and has said "And surely Allah will help him who helps His cause; most surely Allah is Strong, Mighty" and "Those who strive, strive for their own good …"

Those in the Arab world who have committed treachery must know that a fate no better than that of the Jews involved in the Battle of the Confederates [al-Ahzab] will befall them, as God almighty has said "He also brought down their allies among the people of the scripture
from their secure positions …"

The nations of the world stand beside the people and resistance fighters of Gaza. Any government that goes against the will of its nation will further distance itself from its people and the fate of such government is obvious..

They must remember that the Commander of the Faithful, peace be upon him, has said "Living a life of defeat is death and a death with dignity is life."

I salute you and the resistance fighters of Gaza and the oppressed and resistant people of Gaza.

Aside from the Islamic Republic of Iran's government efforts to provide aid for you, which is our duty, I pray for you day and night. I wish you patience and victory from God Almighty.

Peace be upon you and peace be upon righteous servants of God and so may God’s mercy and blessings.

Sayyed Ali Hussaini Khamenei
18 Muharram 1430


Read more...

January 15, 2009

Balasan Atas Para pembantai Imam Husein As

Ditengah kerumunan Pesta pembakaran Kemah Karbala, Umar Bin Saad (LA) berteriak dengan lantang, "Siapa yang mau menjadi sukarelawan untuk menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kaki kudanya ?"

segera sepuluh orang maju menyatakan kesediaan mereka. Mereka adalah:

Ishaq bin Haubah yang juga merampas baju Al-Husain.
Akhnas bin Mirtsad.
Hakim bin Thufail Al-Sabi'i
'Amr bin Shabih Al-Shaidawi
Raja' bin Munqidz Al-'Abdi
Salim bin Khaitsamah Al-Ja'fi
Shaleh bin Wahb Al-Ja'fi
Wahidh bin Ghanim
Hani bin Tsubait Al-Hadhrami
Usaid bin Malik

Kesepuluh Manusia Durjana itu maju dan menginjak-injak jasad Al-Husain as. dengan kaki kuda mereka hingga dada dan punggung Cucu Nabi Saww itu hancur.. (Ya Husseinna..…Ya Husseinna..…Ya Syahidda....)

Diselingi Gelak Tawa dan Tanpa Rasa Takut mereka terus melakukan perbuatan kejinya..

Hingga ketika mereka sampai di Kuffah Kesepuluh Manusia Hina itu datang menghadap Ubaidillah bin Ziyad. Usaid bin Malik, salah seorang dari mereka, berkata:

Kamilah yang menghancurkan dada dan punggungnya

Dengan kuda yang lincah dan bertali kekang kuat

Kepada mereka Ibnu Ziyad bertanya, "Siapakah kalian?"

Dengan bangga mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang menginjak-injak jasad Al-Husain dengan kuda kami. Kami telah berhasil melumatkan punggung dan dadanya."

Ubaidillah bin Ziyad sangat puas mendengar jawaban itu. Ia lalu memerintahkan untuk memberi mereka sedikit hadiah.

Seorang Tabi'in Abu Umar Al-Zahid berkata, "Setelah kami teliti, ternyata kesepuluh orang tersebut adalah anak hasil zina."

Manusia Manusia Hina yang telah melakukan kekejian pada Cucu Kinasih Nabi al Husein As pun di akhir hayatnya diperlakukan secara sama oleh Mukhtar yang mengobarkan pembalasan pada Kaum durjan, hingga akhirnya Mukhtar berhasil menangkap mereka semua. Setelah mengikat mereka dengan rantai besi, ia memerintahkan pasukan berkudanya untuk menginjak-injak dan melumatkan punggung mereka. Mereka semua tewas dengan cara demikian.

Atha' bin Abi Rabbah, seorang tabi'in juga berkata: Aku pernah bertemu dengan seorang buta yang ikut menyaksikan pembantaian terhadap Al-Husain as. Kepadanya aku bertanya perihal penyebab kebutaannya.

Dia menjawab, "Aku menyaksikan pembantaian itu dari dekat. Bahkan aku termasuk salah satu dari kesepuluh orang tersebut. Hanya saja aku tidak ikut andil memukul atau melempar sesuatu kepada Al-Husain. Setelah beliau terbunuh, aku pulang ke rumahku, lalu melaksanakan salat Isya' dan kemudian tidur. Tiba-tiba aku melihat ada seorang yang datang kepadaku dan mengatakan, "Jawablah pertanyaan Rasulullah !"

Kukatakan, "Ada apa sehingga aku mesti pergi menemui beliau ?"

Tanpa menjawab, ia memegangku dengan erat dan menyeretku. Aku melihat Nabi saw. duduk di padang sahara. Kegelisahan tampak jelas pada raut wajahnya. Beliau bertopang dagu pada kedua tangannya. Sebuah senjata kecil ada di tangan beliau. Di sebelah Rasulullah saw., kulihat ada seorang malaikat yang berdiri tegak dengan menghunus pedang yang terbuat dari api. Sembilan orang temanku telah lebih dahulu tewas di tangannya. Setiap ia memukulkan pedangnya, api segera tersembur darinya dan memanggang tubuh mereka.

Aku mendekat ke tempat beliau berada dan bersimpuh di hadapannya. Aku sapa beliau, "Assalamu 'alaika, ya Rasulullah." Tak kudengar jawaban beliau. Lama beliau berdiam diri. Kemudian sambil mengangkat wajahnya, beliau bersabda, "Hai musuh Allah, kau telah menginjak-injak kehormatanku, membantai keluargaku dan tidak mengindahkan hakku sama sekali. Bukankah demikian ?"

Jawabku, "Ya Rasulullah, demi Allah, aku tidak ikut andil dalam memukulkan pedang, menusukkan tombak atau melemparkan anak panah sama sekali."

"Benar," jawab beliau. "Tapi bukankah kau telah ikut dalam menambah jumlah mereka ? Mendekatlah kemari !"

Aku mendekat. Beliau menunjukkan kepadaku sebuah bejana yang dipenuhi darah seraya bersabda, "Ini adalah darah cucu kesayanganku Al-Husain."

Lalu beliau memoles mataku dengan darah itu. Ketika terjaga dari tidurku, mataku menjadi buta sampai sekarang."

Balasan Akhirat Lebih Pedih..!!


Diriwayatkan dari Imam Ja'far As Shadiq as dari Ayahnya dari kakek kakeknya yang suci dari Baginda Rasulillah Saww yang bersabda :

"Di hari kiamat kelak, Allah akan membangunkan sebuah kubah yang terbuat dari cahaya untuk Fatimah. Lalu Al-Husain akan datang dengan kepala di tangannya. Saat menyaksikan hal itu, Fatimah menjerit histeris hingga tak ada satupun malaikat maupun nabi kecuali ikut larut dalam tangisan menyertainya. Maka Allah menampakkannya di depan Fatimah dalam sebaik-baik rupa. Kemudian Al-Husain as. menyerang para pembunuhnya tanpa kepala. Setelah itu Allah menghadapkan kepadaku semua orang yang ikut andil dalam membantai dan mencincangnya untuk kubunuh semuanya. Lalu mereka dihidupkan kembali untuk dibunuh oleh Amirul Mukminin Ali. Setelah itu mereka dibangkitkan lagi. Kini giliran Al-Hasan membantai mereka. Mereka hidup lagi. Al-Husain membunuh mereka semua. Kemudian mereka dihidupkan lagi. Lalu satu persatu keturunanku membunuh mereka semua. Saat itulah, kemarahan dan dendam yang lama terpendam tersalurkan dan semua derita dapat dilupakan."

Kemudian Imam Ja'far Shadiq as. berkata, "Semoga Allah merahmati syiah kita. Demi Allah, mereka adalah orang-orang Mukmin sejati. Mereka ikut menyertai kita dalam musibah dengan kesedihan dan derita mereka yang berkepanjangan."

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Di hari kimat kelak, Fatimah datang diiringi oleh sekelompok wanita. Terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk surga. Ia menolak dan berkata, "Aku tidak akan masuk sebelum tahu apa yang diperbuat umat terhadap anakku."

Terdengar suara, "Lihatlah ke tengah-tenah padang Mahsyar !" Fatimah as. melihat Al-Husain as. berdiri tegak tanpa kepala. Ia menjerit histeris menyaksikan keadaan anaknya. Akupun ikut menjerit mendengar jeritannya. Demikian juga para malaikat."

Dalam riwayat lain disebutkan: Fatimah meratap dan mengatakan, "Oh anakku! Oh buah hatiku!" Beliau meneruskan, Saat itulah Allah murka karena kemarahan Fatimah, lalu memerintahkan agar mereka semua dimasukkan ke dalam neraka yang disebut Habhab yang telah dinyalakan seribu tahun lamanya hingga berwarna hitam. Tak ada jalan bagi kesenangan untuk masuk ke dalamnya dan tak ada jalan bagi kesusahan untuk keluar darinya. Datang perintah dari Tuhan kepadanya, "Santaplah para pembunuh Al-Husain!" Neraka itupun segera melahap habis mereka. Setelah mereka berada di dalamnya, ia menggelegar diiringi oleh teriakan dan jeritan mereka.

Mereka lantas berseru, "Tuhan, mengapa Engkau menyiksa kami sebelum para penyembah berhala ?"

Datang jawaban dari Allah yang mengatakan, "Orang yang tahu tidak seperti orang yang tidak mengetahui."

Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Syaikh Ibnu Babuwaih dalam kitab 'Iqabu Al-A'mal

Read more...

Enter Your email to Get Update Articles

Delivered by FeedBurner

Random Articles

Powered by Blogger.

Recent Comments

" Pro-Log for the Light Of AT TSAQOLAIN "

  © Free Blogger Templates Cool by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP